JAKARTA, AFU.ID — Amerika Serikat (AS) dilaporkan mulai menjalin komunikasi dengan sejumlah tokoh oposisi Israel di tengah meningkatnya spekulasi mengenai perubahan pemerintahan Benjamin Netanyahu. Langkah ini muncul seiring menguatnya perbedaan pandangan antara Washington dan Tel Aviv, terutama terkait konflik di Iran dan Lebanon.
Laporan Channel 12 Israel pada Minggu (21/6/2026), menyebut sejumlah pejabat di pemerintahan Presiden AS Donald Trump menilai peluang pergantian kekuasaan di Israel semakin terbuka. Situasi politik internal Israel disebut menjadi perhatian serius Washington.
Dalam laporan tersebut juga disebutkan AS mulai melakukan kontak informal dengan tokoh oposisi Israel. Di antaranya Naftali Bennett, pemimpin Partai Together yang berasal dari kubu sayap kanan, serta Gadi Eisenkot dari Partai Yashar.
Langkah itu disebut sebagai bagian dari upaya AS merespons dinamika politik Israel yang kian tidak stabil. Washington juga disebut menilai adanya kelompok garis keras dalam pemerintahan Netanyahu yang memicu kekhawatiran.
"Pemerintahan AS telah menyatakan keprihatinan terhadap kelompok garis keras dalam pemerintahan Netanyahu dan berupaya membangun basis dukungan publik baru menjelang pemilu," kata Channel 12 dalam laporannya.
Di sisi lain, kubu oposisi Israel disebut telah lebih dahulu mencoba membangun komunikasi dengan pejabat AS dalam beberapa bulan terakhir. Namun, hasilnya masih terbatas karena sebagian pejabat AS masih mempertahankan sikap hati-hati terhadap dinamika politik Israel.
Laporan itu menyebut langkah Washington bertujuan memanfaatkan peluang politik di tengah menurunnya tingkat kepercayaan terhadap pemerintahan Netanyahu. AS disebut tengah mempertimbangkan pembentukan jalur komunikasi politik alternatif dengan Israel.
Meski demikian, Trump belum memberikan dukungan resmi kepada tokoh politik Israel mana pun. Pemerintah AS disebut masih berada pada tahap penjajakan terhadap berbagai opsi politik yang berkembang.
Sementara itu, survei harian Maariv menunjukkan oposisi Israel berpotensi meraih 61 kursi parlemen jika pemilu digelar saat ini, mengungguli blok Netanyahu yang diperkirakan memperoleh 49 kursi. (ANT/RAI)