AFU.ID, JAKARTA - Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) Iran mendeklarasikan rencana pembentukan ‘Tatanan Baru Teluk Persia’.
Korps Garda Revolusi Islam di tanah Persia ini menegaskan, situasi terkini di Selat Hormuz telah berubah secara permanen.
Pernyataan tersebut muncul sebagai respons menantang terhadap ultimatum Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump.
Yang mana, Donald Trump mengancam akan menghancurkan infrastruktur Iran apabila jalur perdagangan energi dunia tersebut tak segera terbuka.
Melalui pernyataan resmi di platform X, IRGC menyatakan bahwa mereka sedang dalam tahap akhir persiapan operasional untuk tatanan baru tersebut.
Langkah tersebut mempertegas posisi Iran di jalur perairan yang menjadi perlintasan dari seperlima perdagangan energi global.
Regulasi Baru dan Pajak Transit
Melansir dari Times Now News, ketegangan tersebut kian parah gegara langkah parlemen Iran yang menyetujui draf undang-undang baru terkait regulasi Selat Hormuz.
Aturan tersebut mencakup:
Pungutan Pajak Tol: Kapal yang melintas wajib membayar biaya transit dalam mata uang nasional Iran;
Larangan Transit: Penutupan akses total bagi kapal-kapal milik AS dan Israel;
Sanksi Balasan: Pembatasan transit bagi negara-negara yang terlibat dalam sanksi sepihak terhadap Iran.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi juga menepis isu adanya proposal gencatan senjata.
Ia dengan lantang menyampaikan, aksi militer akan terus berlanjut hingga pihak agresor menerima hukuman dan Iran mendapatkan reparasi.
Ultimatum Keras Donald Trump
Masih melansir Times Now News, Donald Trump menetapkan tenggat waktu baru bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, yakni pada Selasa, 7 April 2026 pukul 20.00 waktu setempat (Eastern Time).
Melalui media sosial, Presiden AS tersebut memberikan peringatan keras akan adanya serangan udara besar-besaran.
“Selasa akan menjadi ‘Hari Pembangkit Listrik’ dan ‘Hari Jembatan’ di Iran, buka selat (Hormuz, red) itu, atau kalian akan hidup di neraka,” tulisnya.
Dalam wawancara dengan Axios dan The Wall Street Journal, Trump menegaskan komitmennya untuk menghancurkan fasilitas listrik dan infrastruktur utama Iran apabila kesepakatan tak tercapai sebelum tenggat waktu berakhir.
“Jika tidak melakukan sesuatu pada Selasa malam, mereka tidak akan memiliki pembangkit listrik atau jembatan yang tersisa,” ungkapnya.
Eskalasi Konflik
Sebagai informasi, konflik di Timur Tengah ini telah memasuki hari ke-38 pada Senin, 6 April 2026.
Situasi memburuk setelah serangan udara AS dan Israel di Teheran pada 28 Februari lalu yang menewaskan sejumlah pejabat tinggi, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Iran membalas serangan tersebut dengan membidik pangkalan militer AS dan fasilitas minyak di negara-negara tetangga. (Fad/Adr)