JAKARTA, AFU.ID - Hubungan politik Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali menjadi sorotan. Ketegangan itu mencuat setelah Trump menyatakan bahwa Israel tidak akan berada pada posisinya saat ini tanpa dukungan dirinya. Pernyataan tersebut muncul di tengah upaya Washington mendorong kesepakatan damai dengan Iran.
Di saat yang sama, Israel tetap melanjutkan serangan ke Lebanon dengan dalih menargetkan Hizbullah, kelompok yang selama ini dikenal sebagai sekutu Iran. Selama bertahun-tahun, Trump dan Netanyahu dikenal memiliki hubungan dekat. Netanyahu bahkan pernah menyebut Trump sebagai sahabat terbesar Israel yang pernah berada di Gedung Putih.
Namun, hubungan itu kini disebut mulai berubah setelah Trump menilai langkah militer Israel di Lebanon dapat mengganggu proses diplomasi Amerika Serikat dengan Iran. Trump menyampaikan kritik terbuka terhadap Netanyahu. Ia menilai pemimpin Israel itu harus lebih bertanggung jawab, terutama dalam menyikapi situasi di Lebanon.
“Tanpa saya, tidak akan ada Israel,” kata Trump, dikutip AP News, Rabu (17/6/2026). Pernyataan itu menjadi salah satu kritik paling keras Trump terhadap Netanyahu. Sebelumnya, Trump dikenal sebagai salah satu presiden Amerika Serikat yang paling vokal mendukung Israel.
Ketegangan keduanya juga disebut telah terjadi sejak awal Juni. Mengutip laporan Axios, Trump sempat menelepon Netanyahu pada 1 Juni 2026 untuk menyampaikan kemarahannya atas rencana Israel memperluas serangan ke Lebanon, termasuk ancaman serangan ke kawasan Dahiyeh di Beirut yang dikenal sebagai basis kuat Hizbullah.
Dalam laporan tersebut, Trump disebut menilai Netanyahu bertindak terlalu jauh karena eskalasi militer Israel berpotensi merusak upaya diplomasi Washington dengan Teheran. “Kau benar-benar gila,” kata Trump kepada Netanyahu menurut sumber yang dikutip Axios.
Kesepakatan AS-Iran Jadi Taruhan
Sikap Trump terhadap Netanyahu tidak lepas dari kepentingan politik Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik dengan Iran. Perang yang berlarut dinilai semakin tidak populer di dalam negeri Amerika dan ikut menekan harga bahan bakar. Analis Timur Tengah Aaron David Miller menilai Trump dapat menggunakan pengaruh politiknya untuk menekan Netanyahu apabila langkah Israel dianggap menghalangi tujuan Washington.
“Jika Netanyahu menghalangi sesuatu yang sangat diinginkan Trump, dan itu adalah keluar dari perang ini, dia siap menggunakan pengaruh yang dimilikinya,” kata Aaron David Miller.
Dengan situasi itu, dukungan Trump terhadap Israel tidak lagi otomatis berarti dukungan penuh terhadap setiap keputusan Netanyahu. Trump dinilai tetap akan mempertimbangkan kepentingan strategis Amerika Serikat, terutama dalam proses negosiasi dengan Iran. Ketegangan ini terjadi menjelang rencana penandatanganan kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran di Swiss pada Jumat, 19 Juni 2026.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif sebelumnya menyatakan Washington dan Teheran telah mencapai kesepakatan setelah melalui pembicaraan intensif. Pakistan disebut berperan sebagai mediator dalam proses diplomasi tersebut. “Setelah pembicaraan intensif, dengan senang hati kami mengumumkan bahwa Kesepakatan Perdamaian antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran telah tercapai,” tulis Shehbaz Sharif di akun X miliknya.
Kesepakatan itu disebut mencakup penghentian operasi militer di sejumlah front, termasuk Lebanon. Karena itu, serangan Israel ke wilayah tersebut menjadi salah satu faktor yang dikhawatirkan dapat mengganggu proses perdamaian. (FAD)