JAKARTA, AFU.ID - Kasus penyekapan dan penganiayaan sadis yang menimpa YTR (29) oleh kekasihnya, Taufik Hidayat (30), menyimpan tragedi salah asuhan. Di balik beringasnya kelakuan Taufik, ternyata ada peran pola pengasuhan keluarga yang salah arah. Taufik tumbuh dalam lingkungan "toxic parenting" atau pola asuh pembiaran. Dia ternyata selalu dibela sang ayah lantaran dinilai anak laki-laki paling tampan di keluarga.
Akar dari watak kejam Taufik Hidayat itu terungkap secara gamblang melalui pengakuan miris sang ayah kandung, Pak Tata, dalam sebuah perbincangan di kanal YouTube milik Kang Dedi Mulyadi yang ditayangkan Rabu (24/6/2026). Pak Tata mengisahkan bagaimana hancurnya silsilah keluarga mereka akibat salah asuhan.
Pak Tata mengatakan, dia memiliki empat orang anak, dan hampir seluruhnya dilingkupi nasib tragis. Anak pertama perempuan, telah meninggal dunia karena sakit. Anak kedua laki-laki, saat ini tinggal di Garut, namun hidupnya akrab dengan masalah. "Dia seorang pemabuk, kerap terlibat perkelahian, dan sudah dua kali bercerai," ungkap Pak Tata.
Nah, anak ketiga adalah Taufik Hidayat, yang kini menjadi tersangka kriminal penyiksaan terhadap seorang perempuan. Sementara, anak keempat, si bungsu laki-laki, meninggal dunia secara tragis akibat overdosis obat-obatan. Lebih tragis lagi, kematian anak bungsu karena narkoba inilah yang menjadi salah satu pemicu utama sang ibu mengalami depresi berat hingga akhirnya meninggal dunia.
Pak Tata sendiri mengaku dirinya pernah nyaris kehilangan nyawa setelah kepalanya dihantam balok kayu oleh Taufik saat sedang mencangkul di sawah. Pemicunya sangat sepele dan tidak masuk akal. Taufik, yang merupakan seorang pengangguran, mengamuk sejadi-jadinya hanya karena di rumah tidak tersedia lauk ikan untuk ia makan.
Setelah ditelusuri, asal-muasal dari sikap beringas anak-anak Pak Tata bersumber dari pola asuh masa lalu. Pak Tata mengakui secara jujur bahwa sedari kecil, Taufik adalah "anak emas" di keluarga karena dianggap memiliki wajah yang paling tampan di antara saudara-saudaranya.
Karena fisik yang rupawan itu, Taufik selalu dimanja. Sang ayah selalu membela Taufik mati-matian setiap kali anak ketiganya itu berbuat ulah atau bertengkar dengan tetangga. Hasil dari pembelaan buta tersebut justru mematikan empati dalam diri Taufik, menumbuhkan ego yang raksasa, hingga akhirnya menjelma menjadi sosok yang manipulatif dan sadis.
Dari cerita Susi, mantan istri Taufik Hidayat, terungkap, selain menyiksa sang istri, Taufik Hidayat ternyata juga meninggalkan sang istri setelah menikah selama dua minggu. "Berumah tangganya berapa lama?" tanya Kang Dedi Mulyadi. "Nggak lama, dua minggu, langsung ditinggalin," jawab istri Taufik Hidayat.
Dari pernikahan itu, Taufik dan Susi dikaruniai seorang anak berusia 10 tahun. Susi mengaku, setelah meninggalkan dirinya, Taufik hanya dua kali menengok sang anak dan tidak pernah menafkahi. Terkait kasus penganiyaan yang dilakukan Taufik baru-baru ini, Susi mengaku takut akan berdampak ke mental anaknya.
Namun, korban paling tragis dari seluruh kekacauan ini adalah sang ibu. Ibu kandung Taufik hancur secara mental melihat kelakuan anak-anaknya—ada yang overdosis, pemabuk, dan Taufik yang menjadi pelaku kriminal. Akibat depresi berat, sang ibu sering linglung dan berjalan tanpa arah ke area pegunungan hingga akhirnya mengembuskan napas terakhirnya.
Terkait kasus penganiayaan terhadap YTR, yang tergolong sangat ekstrem, Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Barat berencana melakukan pemeriksaan kejiwaan terhadap pria berusia 30 tahun tersebut. Langkah ini diambil untuk memetakan kondisi psikologis tersangka secara utuh.
Kapolda Jawa Barat, Irjen Pol. Rudi Setiawan, menilai pola kekerasan yang diduga dilakukan Taufik terhadap korban sudah berada di luar batas kewajaran sebuah hubungan asmara. "Karena apa yang dilakukan, sebagaimana teman-teman ketahui, ini sesuatu yang tidak wajar, sesuatu yang di luar, ya, kebiasaan, perilaku seseorang terhadap kekasihnya, yang bisa kita katakan terlalu atau sadis ya," jelas Irjen Pol. Rudi, Rabu (24/6/2026).
Rudi berharap hasil pemeriksaan kejiwaan ini akan melengkapi seluruh berkas perkara berkaitan dengan tersangka sebelum nantinya dilimpahkan ke tahap penuntutan. Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, penyidik telah menempatkan Taufik di dalam ruang tahanan khusus yang dipantau ketat secara ketat. "Kita akan lakukan penahanan di sel khusus, ya, yang kita sudah pasang CCTV-nya dan berada sendiri, ya, dan dalam pengawasan kita semua," ungkap Kapolda.
Berdasarkan hasil pemeriksaan medis dan narkoba, Taufik dipastikan dalam keadaan fisik yang baik dan negatif dari zat narkotika. Namun, polisi mengungkapkan bahwa aksi penyiksaan biadab tersebut dilakukan Taufik di bawah pengaruh minuman keras.
"Dia tadi sempat menyatakan bahwa dia juga menyesal, karena ini dilakukan di bawah kesadarannya akibat konsumsi alkohol tadi itu. Intisari, minuman itu. Minuman keras, ya. Sebuah merek minuman keras Intisari, ya. Sejenis anggur hitam itu," pungkas Irjen Pol. Rudi.
Meski memiliki jejak masa lalu yang kelam yang berpengaruh pada kepribadianya, Ahli Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel mengingatkan publik agar tidak terburu-buru menganggap Taufik Hidayat, mengalami gangguan jiwa. Reza mengatakan, asumsi tersebut justru berpotensi menjadi celah yang dapat dimanfaatkan dalam proses hukum.
“Kalau sejak sekarang kita bangun spekulasi ada gangguan kejiwaan tertentu dan seterusnya, saya khawatir itu justru menjadi celah yang dimanfaatkan oleh pelaku dan penasihat hukumnya untuk meyakinkan publik dan meyakinkan pengadilan bahwa yang bersangkutan adalah orang yang sakit,” kata Reza dikutip dari tayangan Kompas TV, Selasa (23/6/2026).
Dalam melakukan aksinya, Reza menilai, Taufik Hidayat melakukannya secara sadar. uktinya adalah dia berupaya menghilangkan barang bukti, menyusun alibi, atau berusaha mengelabui penyidik. "Itu menunjukkan adanya kesadaran terhadap konsekuensi perbuatannya," ujar Reza..
Karena itu, spekulasi mengenai kondisi kejiwaan pelaku sebaiknya tidak dikedepankan sebelum ada hasil pemeriksaan resmi dari pihak yang berwenang. “Jelas, orang yang sakit tidak semestinya dihukum berat. Apa kita ingin membayangkan pelaku seharusnya akan mendapatkan nasib yang semudah itu? Tentu saja tidak,” kata Reza.
Reza juga menilai tindakan kekerasan yang dialami korban lebih mengarah pada agresi emosional daripada motif ekonomi. Tingkat luka yang dialami korban menunjukkan adanya pelampiasan emosi negatif seperti kemarahan, kebencian, dendam, atau sakit hati yang dilakukan secara berulang.
Menurut Reza, secara umum agresi dapat dipicu oleh dua motif, yakni agresi emosional dan agresi instrumental. Agresi emosional dilakukan untuk meluapkan perasaan negatif, sedangkan agresi instrumental bertujuan memperoleh keuntungan tertentu, seperti uang atau manfaat lainnya. “Dengan bobot luka yang sedemikian parah, saya pikir kita bisa membangun simpulan sementara bahwa tampaknya ini adalah golongan agresi emosional,” tegas Reza.
MAR