JAKARTA, AFU.ID - Pakar ekonomi dan analis pasar modal Profesor Ferry Latuhihin membuat pengakuan mengejutkan. Dalam dua bulan belakangan ini, dia mengatakan, mendapatkan intimidasi dari petugas pajak. "Saya dikirimi surat yang dalam surat itu mengatakan, saya memiliki deretan mobil mewah Porsche, Jaguar dan sebagainya yang tidak dilaporkan ke pajak," kata Ferry kepada AFU.ID, Kamis (16/7/2026).
Petugas tersebut, yang berjumlah sekitar 3 orang, kata Ferry, datang ke kediamannya di kawasan Cibubur dan mengaku dari Kantor Pajak di kawasan Gambir, Jakarta Pusat. "Saya dulu memang sempat tinggal di daerah itu," ujarnya.
Lantaran memang tidak memiliki kendaraan mewah seperti yang disebutkan dalam surat itu, Ferry memilih mengabaikannya. "Karena mereka minta saya tanda tangan untuk bukti tanda terima, ya saya tanda tangan saja, tetapi surat itu tidak saya baca lagi," ujarnya.
Dia menduga surat itu adalah bentuk intimidasi yang terkait dengan sikap kerasnya atas kebijakan ekonomi pemerintah, khususnya Kementerian Keuangan (Kemenkeu) yang dipimpin Purbaya Yudhi Sadewa. Ferry memang selama ini terkenal kritis terhadap kebijakan ekonomi pemerintah khususnya dalam urusan fiskal. Ferry kerap menyoroti ruang fiskal pada Anggaran Pendapatan dan belanja Negara (APBN) yang semakin sempit karena beban utang negara.
Ferry dalam berbagai kesempatan juga kerap meragukan validitas target pertumbuhan ekonomi yang ditetapkan pemerintah via Kementerian keuangan. Ferry menilai kebijakan Purbaya lebih banyak bersifat administratif (seperti bongkar muat dana) daripada kebijakan fiskal struktural. Ia bahkan menyarankan langkah radikal berupa pemotongan pajak untuk memberikan ruang lebih besar kepada sektor swasta.
Paling keras, Ferry Latuhihin bahkan pernah meramal dolar Amerika Serikat bakal menyentuh 20 ribu rupiah per dolar AS jika Kemenkeu tak berani mengambil kebijakan radikal. Saat itu Ferry mengkritik keputusan pemerintah menaikkan bunga deposito dolar di bank Himbara. Padahal, kata Ferry, seharusnya pemerintah menaikkan bunga deposito rupiah untuk menjaga daya tarik rupiah dan tidak terjadi capital flight.
Kerap dikiritk, Menkeu Purbaya menyerang balik secara terbuka di media massa dengan menyebut Ferry tidak memiliki dasar data yang kuat dan dianggap kurang memiliki pengalaman formal di bidang pemerintahan serta ekonomi. Purbaya membela kinerja pemerintah dengan merujuk pada data ekonomi yang positif serta melihat langsung kondisi ril di lapangan seperti aktivitas perdagangan di Pasar Tanah Abang. Purbaya juga menyindir Ferry agar tidak menakut-nakuti masyarakat terkait isu ekonomi seperti potensi kenaikan BBM
Terkait sikap kritisnya terhadap kebijakan ekonomi pemerintah diakui Ferry, dia sempat menerima pesan dari koleganya sesama ekonom Raden Pardede. "Kebetulan kami memang pernah sama-sama di PPA (Perusahaan Pengelola Aset-red)," ujar Ferry. Nah Raden Pardede, kata Ferry mengingatkan dirinya agar hati-hati karena bisa didatangi orang pajak.
Ferry sendiri mengaku menanggapi santai peringatan Raden Pardede itu. "Orang saya juga sudah nggak ada kerjaan, lepas dari PPA saya di fintech Tanamduit, 2024 saya sudah keluar, mau ngisi income dari mana? Orang saya makan tabungan, nggak ada kewajiban isi SPT pajak, saya sudah pensiun." ujarnya.
Nyatanya, kata Ferry, hal yang diingatkan itu terjadi. Tak hanya sekali, dalam catatan Ferry, petugas pajak itu mendatanginya sampai lima kali dan selalu membawa surat yang dia sendiri mengaku tak pernah mau melihat isinya. "Sekali datang 3-4 orang, saya lempar aja suratnya ke bawah meja, saya merasa benar karena saya nggak pernah bohongin pajak, ya saya diemin," ujar Ferry.
Namun kekesalannya akhirnya memuncak lantaran sampai pekan lalu, petugas pajak itu masih datang lagi ke rumahnya. "Ini sudah mencoba abuse of power dengan menggunakan instansi dan aparatur pemerintah untuk mengkriminalisasi saya," tegas Ferry. Dia mengaku sempat bersitegang dengan petugas pajak yang mendatanginya. "Kamu lihat sendiri ada nggak mobil yang kamu katakan itu di rumah saya," tegas Ferry.
Nah, yang membuat Ferry yakin intimidasi ini terkait sikap kritisnya terhadap Purbaya adalah ketika Kamis (16/7/2026) sore, dia bertemu salah seorang koleganya. "Dia bilang, tadi ketemu Pak Bimo (Bimo Wijayanto Dirjen Pajak-red), kata teman saya Pak Bimo bilang, tolong sampaikan ke Pak Ferry mohon maaf, karena panggilan terkait pajak itu bukan dari saya," ungkap Ferry.
Karena merasa tak nyaman, Ferry sendiri mengaku akan mengambil langkah hukum terkait hal ini. "Tentu saya nggak akan dia, saya akan ambil langkah hukum, karena ini sudah mau akhir pekan, saya akan ketemu lawyer saya pekan depan," pungkas Ferry. Sampai berita ini diturunkan, redaksi AFU.ID mencoba mengontak pihak humas Kementerian Keuangan Joko Purbono untuk mengkonfirmasi informasi tersebut. Namun sampai berita ini diturunkan belum mendapat jawaban dari yang bersangkutan.
MAR