AFU.id

IHSG Kembali Tembus Level Psikologis 6 Ribu, Rp10 Triliun Modal Asing Justru Kabur

Bagikan:

Penulis: Adriyan Adirizky RahmatReporter: Adriyan Adirizky R

Ringkasan Berita

Pasar modal Indonesia sepanjang pekan kedua Juni 2026 mencatatkan rekor volatilitas yang luar biasa.Bahkan, merefleksikan tarik-menarik yang sengit antara sentimen makroekonomi global, restrukturisasi regulasi domestik, dan dinamika likuiditas internal bursa.

IHSG Kembali Tembus Level Psikologis 6 Ribu, Rp10 Triliun Modal Asing Justru Kabur
Seorang karyawan berdiri di depan layar digital yang menampilkan pergerakan IHSG di BEI, Jakarta, Senin (4/3/2024). (Foto: ANTARA/Aprillio Akbar/tom.)

Modal Asing Justru Kabur

Pergerakan mingguan IHSG memang mencatatkan kenaikan luar biasa, yaitu sebesar 7,38%. Persentase itu bahkan menjadi kenaikan mingguan terbesar dalam beberapa bulan terakhir. Namun, analisis aliran dana secara agregat memperlihatkan adanya pola transaksi yang tak biasa.

Dalam akumulasi sepekan (8-12 Juni 2026), investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) dengan nilai yang sangat fantastis, yakni mencapai Rp10 triliun. Kondisi di mana indeks saham melesat tajam ketika terjadi arus modal keluar berskala jumbo, mengindikasikan adanya kekuatan penyerapan likuiditas yang sangat solid dari basis investor domestik.

Berdasarkan data operasional Bursa Efek Indonesia (BEI), indikator likuiditas pasar menunjukkan peningkatan yang sehat. Rata-rata frekuensi transaksi harian bursa mengalami kenaikan sebesar 4,14%, menjadi 2,51 juta kali transaksi ketimbang pekan sebelumnya yang tercatat sebesar 2,41 juta kali.

Dari sisi volume perdagangan, rata-rata volume transaksi harian melompat sebesar 7,46%, menjadi 36,14 miliar lembar saham dari sebelumnya 33,63 miliar lembar saham. Namun, rata-rata nilai transaksi harian justru mengalami penurunan sebesar 7,07%, menjadi Rp25,06 triliun ketimbang pekan sebelumnya yang mencapai Rp26,97 triliun.

Penurunan rata-rata nilai transaksi harian di tengah kenaikan frekuensi dan volume menunjukkan aktivitas perdagangan bursa didominasi oleh transaksi ritel atau transaksi saham-saham berkapitalisasi kecil hingga menengah (small to mid-caps) dengan harga per lembar saham yang lebih rendah. Kondisi itu merefleksikan, investor institusi besar cenderung mengurangi ukuran transaksinya (ticket size), sementara investor ritel domestik sangat aktif memanfaatkan fluktuasi harga untuk melakukan perdagangan harian (day trading).

Aksi jual asing yang sangat terkonsentrasi pada sektor perbankan dan grup konglomerasi pertambangan sepanjang pekan kemarin mengindikasikan strategi pengelolaan portofolio defensif global yang cenderung menghindari eksposur risiko makro negara berkembang di tengah penguatan nilai dolar AS. Namun, perubahan arah aliran dana asing pada sesi perdagangan Jumat memberikan sinyal, para manajer investasi global mulai melakukan akumulasi kembali pada saham-saham yang telah terdiskon secara berlebihan (undervalued), terutama emiten dengan fundamental kokoh dan katalis sektoral kuat.

Berikut Redaksi AFU.ID sajikan data historis 10 saham dengan nilai penjualan bersih asing (net sell) terbesar sepanjang pekan kedua Juni 2026:

  1. BBCA (PT Bank Central Asia Tbk) = Rp1,87 triliun;

  2. BBRI (PT Bank Rakyat Indonesia Tbk) = Rp1,70 triliun;

  3. TPIA (PT Chandra Asri Pacific Tbk) = Rp1,46 triliun;

  4. BMRI (PT Bank Mandiri Tbk) = Rp636,28 miliar;

  5. AMMN (PT Amman Mineral Internasional Tbk) = Rp434,73 miliar;

  6. ANTM (PT Aneka Tambang Tbk) = Rp354,34 miliar;

  7. CUAN (PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk) = Rp342,70 miliar;

  8. TLKM (PT Telkom Indonesia Tbk) = Rp329,86 miliar;

  9. ASII (PT Astra International Tbk) = Rp315,60 miliar;

  10. DSSA (PT Dian Swastatika Sentosa Tbk) = Rp261,82 miliar. (ADR)

Berita Terkait

Pilihan Redaksi