JAKARTA, AFU.ID — Pasar modal Indonesia mengalami guncangan likuiditas yang sangat hebat pada pertengahan Mei 2026, tercermin dari koreksi tajam pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Dalam periode perdagangan yang singkat antara tanggal 11 hingga 13 Mei 2026, IHSG anjlok signifikan sebesar 3,53% dari level psikologis di atas 6.900 hingga terpuruk di posisi 6.723,32.
IHSG bahkan terus mengalami koreksi tatkala perdagangan Senin (18/6/2026) terbuka, yakni di angka 6.628,98.
Turbulensi hebat tersebut mengakibatkan kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) menyusut sebesar Rp581 triliun, merosot dari Rp12.406 triliun pada pekan sebelumnya menjadi Rp11.825 triliun.
Pemicu utama dari koreksi massal tersebut adalah pengumuman rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang rilis pada 12 Mei 2026 waktu Amerika Serikat.
Penyesuaian bobot konstituen tersebut berlaku efektif pada penutupan perdagangan 29 Mei 2026 dan aktif secara penuh per 1 Juni 2026.
Hasil tinjauan kali ini jauh melampaui ekspektasi pesimis pasar, dengan total 19 saham asal Indonesia dikeluarkan dari portofolio indeks MSCI.
Sebanyak enam emiten berkapitalisasi raksasa terdepak dari MSCI Global Standard Index, sementara 13 emiten lainnya minggat dari MSCI Global Small Cap Index.
Adapun enam emiten yang terdepak dari MSCI Global Standard Index adalah PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).
Pengumuman MSCI seketika memicu aksi jual panik (panic selling) oleh investor institusi dan pengelola dana indeks pasif (passive index funds).
Hal tersebut karena mereka wajib melakukan penyesuaian portofolio demi mereplikasi bobot indeks MSCI yang baru.
Pelepasan kepemilikan secara agresif tersebut beban berat yang menekan kinerja saham-saham konglomerasi besar di bursa.
Respons Pemerintah
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Republik Indonesia (RI), Airlangga Hartarto, menegaskan fundamental ekonomi nasional tetap kokoh untuk menyerap gejolak eksternal.
Terkait kekhawatiran bursa terhadap pengetatan aturan kepemilikan publik, Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa peningkatan porsi saham beredar di masyarakat (free float) tak akan membuat pasar menjadi sepi.
Akan tetapi, Ia justru melihatnya sebagai jembatan bagi masuknya investasi baru serta memperdalam likuiditas pasar modal domestik dalam jangka panjang.
Di sisi sektoral, Menko Airlangga berfokus mendorong kerja sama ekonomi luar negeri.
Seperti kemitraan teknologi pertanian dengan Belarusia dan ekspansi ekspor ke kawasan Eurasia guna memperkuat fondasi makroekonomi.
“Pemerintah ingin mempercepat proses demutualisasi bursa, ini merupakan transformasi struktural untuk mengurangi benturan kepentingan antara bursa dan anggota bursa, serta mencegah praktik pasar yang tidak sehat,” ungkap Menko Perekonomian RI.
Sementara itu, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengimbau seluruh pelaku pasar dan masyarakat agar tetap tenang dan tak panik dalam menghadapi volatilitas ganda.
Baik itu pasar saham maupun pasar valuta asing, di mana rupiah sempat tertekan ke level Rp17.500-an per dolar Amerika Serikat (USD).
Menkeu Purbaya menjelaskan bahwa fondasi ekonomi Indonesia berada dalam kondisi sangat baik dan pemerintah memahami dengan sangat presisi titik-titik kelemahan struktural untuk segera diperbaiki.
Sebagai langkah taktis, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) RI mulai bersinergi erat dengan Bank Indonesia (BI) guna mengendalikan tekanan depresiasi kurs rupiah terhadap USD sejak Rabu (13/5/2026).
Pemerintah juga memberikan tenggat waktu selama enam bulan bagi warga negara Indonesia yang menyimpan dana di luar negeri untuk merepatriasi dan melaporkan dananya ke dalam negeri demi memperkuat ketersediaan valas di dalam negeri.
Selain itu, Purbaya berkoordinasi dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia untuk menangguhkan sementara formulasi pajak ekspor dan royalti komoditas tambang penting guna melindungi kesehatan arus kas emiten tambang domestik.
Untuk prospek jangka panjang, Menkeu Purbaya menyatakan optimismenya bahwa IHSG berpotensi melonjak hingga level 28.000 pada periode 2029-2045, didukung oleh target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8%.
Langkah OJK dan BEI
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi, menyatakan bahwa fenomena rebalancing indeks MSCI merupakan penyesuaian portofolio regional yang lumrah terjadi di berbagai negara berkembang.
Oleh karenanya, Friderica Widyasari Dewi menyarankan agar tak perlu memberi tanggapan dengan sentimen negatif yang berlebihan.
OJK menilai volatilitas jangka pendek tersebut sebagai penyesuaian yang sehat (short-term pain) menuju pasar modal yang jauh lebih transparan dan matang (long-term gain).
Kekuatan pasar modal Indonesia saat ini dinilai jauh lebih kokoh karena ditopang oleh pertumbuhan signifikan investor retail domestik, di mana jumlah Single Investor Identification (SID) telah menembus angka 26 hingga 26,8 juta investor yang bertindak sebagai pilar stabilitas bursa.
OJK juga mencatat bahwa sebelum pengumuman rebalancing, per 5 Mei 2026, IHSG sebenarnya menunjukkan tren apresiasi sebesar 1,44% secara month-to-date.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hasan Fawzi, menambahkan bahwa fokus utama regulator sekarang adalah memperkuat integritas pasar dan memperbanyak emiten berkualitas guna meningkatkan daya tarik bursa secara fundamental.
Sementara itu, Jeffrey Hendrik selaku Pejabat Sementara Direktur Utama (Pjs Dirut) BEI menilai kondisi perdagangan saham di bursa secara umum tetap berada dalam koridor stabil tanpa adanya indikasi kepanikan yang merusak tatanan pasar reguler.
BEI terus fokus meningkatkan tata kelola dan transparansi data, terutama yang berkaitan dengan kepemilikan saham di bawah 1% yang tercatat di Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) guna menghindari salah perhitungan porsi free float oleh penyedia indeks global.
Jeffrey Hendrik lantas menekankan komitmen pihaknya untuk berkoordinasi langsung dengan MSCI guna mencari titik temu atas pembekuan rebalancing indeks yang sempat menekan sentimen pasar domestik sejak awal tahun.
Di sisi lain, Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menegaskan komitmen bank sentral untuk selalu berada di pasar guna mengawal stabilitas nilai tukar rupiah.
BI menerapkan strategi intervensi cerdas (smart intervention) pada pasar spot, pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pasar Non-Deliverable Forward (NDF) guna meredam volatilitas nilai tukar.
Destry Damayanti memandang, tekanan terhadap rupiah bersifat musiman akibat kebutuhan pembayaran utang luar negeri korporasi serta repatriasi dividen.
Sedangkan di saat yang sama, aliran masuk modal asing (capital inflow) pada pasar SRBI dan SBN dinilai mulai membaik dengan realisasi mencapai Rp61,6 triliun sepanjang April 2026.
Rp1,5 Triliun Dana Asing Kabur
Pengumuman rebalancing indeks MSCI pun memicu gelombang pelepasan aset keuangan domestik oleh investor asing secara masif.
Sehari pascapengumuman, (Rabu, 13 Mei 2026) yang juga menjadi hari penutupan perdagangan pada pekan kedua Mei 2026, sebanyak Rp1,531 triliun dana asing kabur dari pasar modal Indonesia.
Penjualan bersih harian dari investor asing tersebut terkonsentrasi pada saham-saham perbankan berkapitalisasi jumbo.
Di antaranya PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), serta emiten komoditas tambang terkemuka seperti PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN).
Berdasarkan data yang redaksi AFU.ID himpun, total akumulasi net sell asing sepanjang tahun 2026 bahkan telah menembus Rp40,82 hingga Rp50,63 triliun.
Tekanan likuiditas tersebut diperkirakan akan mencapai puncaknya pada sesi penutupan perdagangan tanggal 29 Mei 2026 mendatang.
Momen tersebut tepat ketika seluruh dana pasif global yang mereplikasi indeks MSCI melakukan likuidasi portofolio secara serentak.
Di sisi lain, tren pelemahan rupiah yang terus menembus batas bawah historis hingga menyentuh level Rp17.630 per USD berpotensi memicu spiral negatif.
Depresiasi kurs mendorong investor asing untuk segera merealisasikan keuntungan (capital gain) dalam bentuk valas yang semakin menekan nilai tukar rupiah. (ADR)