JAKARTA, AFU.ID - Tren penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih terus berlanjut dalam sepekan ini. Mata uang garuda kini mulai bergerak meninggalkan level psikologis Rp18.000 dan nyaman bertransaksi di kisaran Rp17.800 hingga Rp17.900 per dolar AS.
Berdasarkan data perdagangan, pada transaksi Jumat pagi (12/6/2026), kurs rupiah dibuka menguat 59 poin atau 0,33 persen ke level Rp17.930 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.989 per dolar AS. Penguatan ini melanjutkan reli sejak Rabu (10/6/2026) pagi , di mana rupiah sempat melonjak hingga 158 poin (0,88 persen) ke level Rp17.900 per dolar AS dari posisi awal Rp18.058 per dolar AS.
Meskipun sempat mengalami tekanan tipis pada penutupan Kamis (11/6/2026) sore akibat dinamika pasar spot dan pelemahan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) ke Rp17.981, sentimen positif domestik kembali mendominasi pasar. Trend penguatan rupiah ini dinilai dipicu oleh beberapa kebijakan pemerintah yang akhirnya direspons positif pasar.
Pemicu utama kembalinya modal asing ke pasar keuangan domestik adalah respons tanggap Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) menjadi 5,50%. Langkah ini secara instan meningkatkan daya tarik aset investasi berbasis rupiah.
Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa daya tawar instrumen keuangan Indonesia kini semakin memikat di mata investor global. "Pasca kenaikan BI-Rate menjadi 5,50%, serta penguatan imbal hasil SRBI dan SBN, investor asing merespons positif penguatan bauran kebijakan tersebut," ungkap Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan tertulisnya.
Guna memaksimalkan arus modal masuk (capital inflow), BI juga secara agresif mendorong kenaikan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Strategi ini terbukti membuahkan hasil nyata pada paruh pertama bulan Juni.
"Hal ini tercermin dari meningkatnya aliran masuk modal asing ke instrumen SRBI pasca lelang SRBI pada 10 Juni 2026. Aliran masuk modal asing juga mulai kembali terjadi di pasar SBN, terutama pada tenor pendek dan menengah," jelas Ramdan.
Untuk menjaga momentum ini, Ramdan menegaskan bahwa BI akan terus mengoptimalkan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar Rupiah melalui intervensi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik secara konsisten dan terukur.
Selain mengandalkan instrumen suku bunga, langkah fundamental jangka panjang dilakukan BI melalui jalur diplomasi ekonomi. Bertempat di Shanghai, China, Bank Indonesia dan People's Bank of China (PBOC) menyepakati peningkatan nilai kerja sama Bilateral Currency Swap Arrangement (BCSA) guna memperluas penggunaan mata uang lokal (Local Currency Transaction/LCT) dan mengurangi ketergantungan kronis terhadap dolar AS.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, bersama Gubernur PBOC, Pan Gongsheng, meresmikan tiga capaian penting yang mendefinisikan ulang peta konektivitas keuangan regional. Pertama, perluasan kerja sama LCT yang kini ikut mencakup Hong Kong melalui penandatanganan MoU dengan Hong Kong Monetary Authority (HKMA).
"Kerja sama ini memperkuat kerangka LCT yang telah ada untuk mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral, meningkatkan efisiensi transaksi, serta mendukung integrasi pasar keuangan regional yang lebih mendalam," kata Perry Warjiyo.
Kedua, integrasi sistem pembayaran digital resmi dimulai dengan peluncuran pembayaran QR lintas batas Indonesia-China. Penguatan infrastruktur digital ini didukung oleh kesiapan jaringan 191 penyedia jasa sistem pembayaran di China dan 24 penyedia di Indonesia.
Ketiga, Bank Mandiri secara resmi ditunjuk sebagai peserta langsung (direct participant) dalam Cross-border Interbank Payment System (CIPS) milik China untuk mengefisiensikan proses kliring transaksi ekonomi kedua negara.
Gubernur PBOC, Pan Gongsheng, menggarisbawahi bahwa sebagai pilar ekonomi utama di kawasan Asia, Indonesia dan China memiliki tanggung jawab strategis bersama. "Penguatan kerja sama ini diharapkan dapat berkontribusi terhadap kemakmuran dan stabilitas kawasan, sekaligus mendukung ketahanan ekonomi kedua negara," tegas Pan Gongsheng.
Sebagai kelanjutan konkret, kedua bank sentral turut menandatangani MoU Pembentukan Renminbi (RMB) Clearing Arrangement di Indonesia guna menjamin ketersediaan likuiditas yuan yang memadai untuk aktivitas perdagangan dan investasi.
Dari sisi domestik, kebijakan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi, seperti Pertamax, turut andil dalam menopang penguatan rupiah dari sudut pandang kesehatan fiskal. Kebijakan ini dinilai sebagai langkah taktis untuk meredam pembengkakan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Pengamat Kebijakan Publik dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Bonti Wiradinata, menilai kebijakan menaikkan harga BBM non-subsidi ini sangat krusial di tengah fluktuasi harga minyak mentah dunia.
"Urgensi menaikkan harga BBM ini saya perkirakan terkait dengan strategi pemerintah dalam mempertahankan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS serta mengatasi tekanan APBN yang terjadi sebagai akibat pelemahan rupiah tersebut," ujar Bonti.
Menurut Bonti, menahan harga Pertamax di bawah harga keekonomian dalam jangka panjang berpotensi membebani arus kas negara dan memperbesar kebutuhan kompensasi energi dari APBN. Penyesuaian ini dipandang sebagai pilihan paling logis dengan risiko gejolak sosial yang minim karena menyasar kelompok masyarakat kelas menengah ke atas.
"Dengan menyesuaikan harga, pemerintah meminimalisir potensi pembengkakan biaya kompensasi energi. Ini adalah upaya untuk memastikan bahwa APBN tetap fokus pada pembiayaan prioritas lain," tambahnya.
Meskipun kebijakan ini pahit, Sekretaris Eksekutif Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Rio Priambodo, menyatakan dapat memahami latar belakang penyesuaian tersebut yang memang sangat dipengaruhi oleh dinamika eksternal global. Namun, Rio menekankan agar kenaikan biaya yang ditanggung masyarakat dikompensasi secara adil lewat peningkatan fasilitas di lapangan.
"Konsumen tidak boleh hanya diminta menerima kenaikan harga tanpa memperoleh peningkatan manfaat dan kualitas layanan yang sepadan," tegas Rio Priambodo.
Ia mendesak agar aspek jaminan kualitas produk, akurasi takaran, keandalan distribusi, hingga kualitas pelayanan di seluruh SPBU ditingkatkan secara berkala seiring dengan harga baru yang berlaku.
Kombinasi masuknya modal asing lewat instrumen BI, berkurangnya tekanan beli dolar AS berkat perluasan transaksi yuan-rupiah, serta terjaganya postur APBN dari beban subsidi energi, memberikan fondasi kuat bagi rupiah untuk melanjutkan tren penguatan di jangka pendek.
Namun, ketahanan tren positif ini akan diuji oleh dinamika global di paruh kedua tahun ini. Pasar akan terus mencermati arah kebijakan suku bunga The Fed dan stabilitas geopolitik yang dapat memengaruhi harga komoditas global.
Situasi di Timur Tengah memang menjadi kunci. Pasalnya, saat Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali berulah menyerang Iran, trend penguatan Rupiah dan IHSG sempat terancam. Pada perdagangan Kamis (11/6/2026) sore pukul 15.00 WIB, IHSG berbalik arah (koreksi) dengan melemah 27,98 poin atau 0,47% ke posisi 5.874,38.
Pasar modal terseret ke zona merah seiring dengan bursa Wall Street dan regional Asia yang kompak rontok akibat kepanikan global. Meski demikian, gejolak itu masih belum menggoyahkan trend positif nilai tukar rupiah.
Untuk mengantisipasi pembalikan arah sentimen secara mendadak, Bank Indonesia harus tetap bersiaga di pasar offshore maupun domestik guna mengawal kestabilan nilai tukar jangka panjang.
MAR