Penulis: Putri Nadhila · Reporter: Putri Nadhila
JAKARTA, AFU.ID - Aksi pelarian modal asing yang sengaja menggoyang stabilitas nilai tukar kini memaksa pemerintah membangkitkan kembali instrumen pertahanan pasar yang lama tertidur.
"Kita bisa kendalikan dengan mudah," tegas Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Strategi pertahanan tersebut berpusat pada reaktivasi bond stabilization fund atau dana stabilisasi obligasi yang akan menyedot likuiditas dari lembaga internal kementerian dan Special Mission Vehicle (SMV).
"Itu bisa ikut membantu," ujarnya merujuk pada kekuatan pendanaan SMV.
Secara analitis, gejolak pasar dalam beberapa bulan terakhir dipicu oleh manuver pelepasan surat utang domestik oleh asing yang mengerek tingkat imbal hasil (yield) secara agresif.
"Mendorong kenaikan yield secara cepat," urai Purbaya membaca pergerakan pasar.
Meski volume pelarian modal tersebut tergolong mini di kisaran Rp1-2 triliun, efek dominonya sukses menekan kurs rupiah hingga memaksa kementerian merancang skema pembelian kembali (buyback) SBN di pasar sekunder.
"Membantu bank sentral untuk mengendalikan," janjinya meredam kerugian modal investor.
Amunisi pertahanan taktis ini dikonfirmasi murni milik Kementerian Keuangan yang sempat mati suri karena tak terpakai, serta memiliki kerangka kerja yang sama sekali berbeda dengan fasilitas milik KSSK.
"Kita bisa mencukupi dana sendiri," pungkas Purbaya meyakinkan kemandirian fiskal. (ANT/NAD).