JAKARTA, AFU.ID - Perekonomian Indonesia masih menggeliat ke arah yang positif di tengah tekanan geopolitik global yang membuat rupiah terdepresiasi hingga ke angka Rp17.300 per US$. Bank Indonesia mengungkapkan jumlah uang beredar dalam arti luas (M2) pada Maret 2026 tumbuh mencapai Rp10.355,1 triliun. Jumlah itu meningkat 9,7% secara tahunan, serta lebih tinggi dari pertumbuhan Februari 2026 yang mencapai 8,7%.
Direktur Departemen Komunikasi BI, Anton Pitono, menyebut kenaikan itu ditopang pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 14,4% secara tahunan. Sementara itu, uang kuasi yang mencakup tabungan dan deposito tumbuh 5,2%.
“Perkembangan M2 pada Maret 2026 terutama dipengaruhi oleh tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat (Pempus) dan penyaluran kredit,” jelas Anton, seperti dikutip IDN Times, Jumat (24/4/2026).
Data BI menyebut tagihan bersih ke pemerintah pusat melonjak 39,2% secara tahunan, lebih tinggi dari pertumbuhan Februari 2026 yang mencapai 25,6%. Di sisi lain, angka penyaluran kredit tumbuh 8,9% secara tahunan pada Maret, menjadi Rp8.516 triliun. Pertumbuhan relatif stabil dari pada bulan sebelumnya.
“Tetap positifnya penyaluran kredit terutama didorong oleh penyaluran kredit kepada debitur korporasi dan perorangan, yang tumbuh masing-masing 14% dan 3%,” demikian keterangan BI dalam laporannya.
Melonjaknya jumlah uang beredar ini menunjukkan sektor riil memang tengah menggeliat. Ini ditandai dengan melonjaknya kredit investasi. Data per April 2026 menunjukkan pertumbuhan kredit perbankan mencapai 9,49%. Yang menarik, motor penggeraknya adalah Kredit Investasi yang melonjak hingga 20,85%.
Artinya, para pengusaha bukan cuma meminjam uang untuk bertahan hidup (modal kerja), tapi untuk ekspansi. Mereka membangun pabrik baru, membeli mesin, atau membuka cabang. Ini adalah indikator terkuat bahwa sektor riil sedang aktif.
Meski dolar tinggi membuat bahan baku impor mahal, ada beberapa faktor yang membuat manufaktur kita tetap ekspansif (Indeks Purchasing Manager’s Index/PMI di atas 50). PMI berada di angka 50,1, artinya para pengusaha berani mengajukan kredit bank untuk melakukan ekspansi usaha. Ini adalah sinyal bahwa napas industri kita masih kuat, meski sedang "ngos-ngosan" menghadapi tekanan dolar
Mengapa industri tetap berani melakukan ekspansi? Tak lepas dari upaya hilirisasi yang dilakukan pemerintah. Banyak pabrik sekarang tidak lagi mengimpor bahan mentah, tapi mengolah sumber daya alam sendiri di dalam negeri (seperti nikel dan tembaga). Ini mengurangi ketergantungan pada dolar.
Menggeliatnya sektor riil juga didorong oleh belanja pemerintah yang tinggi. Penyerapan anggaran untuk Proyek Strategis Nasional (PSN) di Q1 2026 sangat tinggi, yang secara langsung memberikan order kepada vendor-vendor di sektor riil. Ini mendorong realisasi investasi manufaktur Q1 2026 yang menembus Rp418 triliun. Hal tersebut menunjukkan bahwa modal asing tetap masuk meskipun risiko global tinggi.
Menggeliatnya sektor riil juga didorong oleh sektor konsumsi yang menyumbang sekitar 54% terhadap PDB kita. Mandiri Spending Index berada di level 360,7 (angka yang cukup tinggi). Artinya, masyarakat masih rajin belanja, sehingga ekonomi tetap bergerak.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, sektor riil bisa tetap tumbuh karena BI menggunakan strategi Double Track. Track pertama, moneter, BI menjaga suku bunga secara ketat. BI mempertahankan BI-Rate di level 4,75% (pada April 2026) untuk menahan pelemahan nilai tukar Rupiah dari tekanan eksternal dan menjaga inflasi.
Track kedua, dari sisi makroprudensial, BI mengguyur perbankan dengan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) sebesar Rp427,9 triliun (per April 2026). Artinya, meskipun suku bunga tinggi, bank "dipaksa" atau diberi insentif agar tetap menyalurkan kredit ke sektor-sektor produktif (seperti hilirisasi, otomotif, dan perumahan). Inilah mengapa kredit investasi bisa tetap melompat di atas 20%.
Secara sektoral, Perry menambahkan insentif KLM terus diarahkan ke berbagai sektor prioritas, antara lain pertanian, industri dan hilirisasi, sektor jasa termasuk ekonomi kreatif, real estate dan perumahan, serta sektor UMKM, koperasi, inklusi, dan ekonomi berkelanjutan.
“Sektor-sektor tersebut juga mendukung implementasi berbagai program pemerintah dalam Asta Cita,” ucap Perry.
Tumbuhnya sektor riil di Indonesia di tengah tekanan terhadap rupiah ini disebut Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai "anomali global" atau "survival jode" akibat konflik geopolitik dan lonjakan harga energi. “Dalam situasi ini, pemerintah menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak lagi business as usual,” ujarnya beberapa waktu lalu.
Purbaya menyoroti bahwa perlambatan ekonomi sebelumnya (2025) bukan semata-mata karena faktor global, melainkan salah urus kebijakan, termasuk penyerapan uang yang terlalu ketat (pertumbuhan uang beredar mendekati 0%). Karena itu solusinya menurut Menkeu, menjaga peredaran uang dalam arti luas (M2) tumbuh di level 9-10 persen.
Pertumbuhan uang beredar sebesar 9,7% adalah bahan bakar yang cukup untuk menggerakkan mesin ekonomi hingga tumbuh di kisaran 5,4%. “Jika likuiditas di pasar uang dan perbankan terjaga, gejolak eksternal tidak akan langsung melumpuhkan sektor riil,” tegas Purbaya.
Meskipun sektor riil hidup, namun "awan mendung" tertekannya rupiah yang masih di atas Rp17.000 per US$, tetap perlu diwaspadai. Karena Rupiah melemah, barang-barang yang bahan bakunya impor (seperti kedelai untuk tempe, elektronik, atau BBM) berisiko naik harganya. Jika stabilitas rupiah gagal dijaga, hal ini bisa memicu terjadinya Inflasi.
MAR