Realisasi Investasi Hilirisasi Hampir Sentuh 30%
Sementara itu, Pemerintah RI mencatat investasi di luar Pulau Jawa tetap mendominasi dengan nilai Rp507,8 triliun atau 50,2% sepanjang Semester I 2026. Adapun lima provinsi dengan nilai investasi terbesar pada Triwulan II 2026 yakni DKI Jakarta sebesar Rp94,9 triliun, Jawa Barat Rp61,3 triliun, Maluku Utara Rp40,2 triliun, Jawa Timur Rp40,1 triliun, dan Sulawesi Tengah Rp36,6 triliun.
Selain itu, sektor hilirisasi masih menjadi motor utama pertumbuhan investasi nasional. Sepanjang Semester I 2026, investasi hilirisasi mencapai Rp300,1 triliun atau 29,7% dari total investasi nasional dengan dominasi komoditas mineral seperti bauksit, nikel, tembaga, besi baja, dan pasir silika.
“Realisasi investasi di bidang hilirisasi untuk triwulan kedua ini angkanya Rp152,7 triliun atau meningkat 5,7% (YoY), dan total realisasi investasinya ini hampir mencapai 30% atau 29,8% dari total realisasi investasi di triwulan kedua tahun 2026. Kalau kita lihat biasanya itu nikel yang menjadi nomor satu. Nah ini ada shifting, bauksit sekarang menjadi nomor satu. Karena memang ada beberapa pembangunan bauksit, baik yang dilakukan oleh penanam modal dalam negeri maupun luar negeri, sehingga bauksit untuk pertama kalinya mengambil tempat nomor satu. Tapi harapannya, kita tetap ingin mendorong hilirisasi turunan dari kelapa sawit dan lain-lainnya,” tutur Rosan Roeslani.
Kinerja investasi yang tetap tumbuh menunjukkan daya tahan ekonomi Indonesia di tengah perlambatan global, sekaligus memperlihatkan efektivitas kebijakan hilirisasi sebagai penggerak investasi bernilai tambah. Tantangan berikutnya adalah menjaga keberlanjutan Realisasi Investasi melalui percepatan perizinan, penguatan kawasan industri, serta perluasan hilirisasi ke sektor nonmineral agar manfaat ekonomi dan penciptaan lapangan kerja semakin merata di berbagai daerah. (ADR)






























