JAKARTA, AFU.ID — Pemerintah belum memberi sinyal akan menambah gula ke dalam paket bantuan pangan yang saat ini disalurkan kepada jutaan keluarga penerima manfaat. Usulan tersebut disebut masih berada di tahap masukan dan belum dibahas secara resmi.
Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq mengatakan hingga saat ini pemerintah belum membahas kemungkinan menjadikan gula sebagai salah satu komponen bantuan pangan yang disalurkan kepada masyarakat.
Menurut Hanif, setiap usulan yang berkaitan dengan program bantuan pangan harus dikaji secara menyeluruh karena melibatkan berbagai aspek, mulai dari kebutuhan masyarakat hingga dampaknya terhadap sektor pangan nasional. "Nah, ini kalau terkait dengan konteks kemandirian pangan ya pastinya itu menjadi hal yang penting. Tapi dalam bantuan pangannya, sepertinya belum ada pembahasan," kata Hanif usai menghadiri Peringatan Hari Susu Nusantara 2026 di Jakarta, Minggu (14/6/2026).
Ia menjelaskan pemerintah terbuka terhadap berbagai masukan dari pemangku kepentingan sebagai bahan pertimbangan dalam merumuskan kebijakan pangan yang lebih efektif dan berkelanjutan. Namun, kata dia, penambahan komoditas dalam bantuan pangan tidak bisa diputuskan hanya dari satu sisi. Pemerintah harus memperhitungkan berbagai faktor lain agar kebijakan yang diambil memberikan manfaat yang optimal.
"Kalau sepanjang itu belum ada pembahasan, belum kita cermati. Karena keperluan gula juga tidak bisa dianggap dari satu sisi, ada sisi lain yang perlu kita pertimbangkan," ujarnya. Saat ini, program bantuan pangan pemerintah masih berfokus pada penyaluran beras dan minyak goreng kepada 33,2 juta keluarga penerima manfaat di berbagai daerah.
Dalam program stimulus ekonomi yang berjalan, setiap keluarga penerima manfaat memperoleh bantuan berupa 20 kilogram beras dan empat liter minyak goreng untuk alokasi dua bulan. Usulan memasukkan gula ke dalam paket bantuan pangan sebelumnya disampaikan oleh Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI).
APTRI menilai langkah tersebut dapat membantu menjaga keseimbangan pasar gula domestik sekaligus meningkatkan kepastian penyerapan hasil produksi petani tebu nasional. Menurut organisasi petani itu, penambahan gula dalam bantuan pangan juga berpotensi memperkuat daya beli masyarakat tanpa membebani anggaran secara berlebihan.
Ketua Umum APTRI Soemitro Samadikoen mengusulkan pemerintah menyalurkan satu kilogram gula untuk setiap paket bantuan pangan yang berisi 10 kilogram beras. "Kalau beras itu dikasih 10 kilo, kasilah gula 1 kilo aja. Kalau memang dianggap gula ini terlalu mahal," kata Soemitro.
APTRI berpendapat kebutuhan gula masyarakat jauh lebih kecil dibandingkan beras sehingga volume bantuan yang diperlukan tidak terlalu besar. Meski demikian, pemerintah menegaskan hingga kini belum ada pembahasan resmi terkait usulan tersebut dan fokus penyaluran bantuan pangan masih pada komoditas yang telah berjalan saat ini. (ANT/RAI)