Penulis: Raihan Immaduddin
JAKARTA, AFU.ID — Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax diperkirakan menekan daya beli kelas menengah, terutama pada pengeluaran nonprimer. Kondisi ini terjadi seiring meningkatnya porsi belanja rumah tangga untuk transportasi setelah kenaikan harga BBM tersebut.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (Unair), Rahma Gafmi, menjelaskan, kelompok kelas menengah berpotensi menunda sejumlah pengeluaran non-esensial. “Rumah tangga kelas menengah kemungkinan besar akan menahan atau mengurangi konsumsi pada sektor sekunder dan tersier, seperti liburan, hiburan, food and beverage atau makan di luar, atau barang elektronik,” kata Rahma saat dihubungi Antara di Jakarta, Jumat (12/6/2026).
Ia menambahkan, konsumen Pertamax didominasi oleh kelas menengah hingga menengah atas. Kenaikan harga BBM tersebut berdampak pada penurunan disposable income atau pendapatan yang dapat dibelanjakan. Kebutuhan bahan bakar bersifat inelastis dalam jangka pendek karena masyarakat tetap harus beraktivitas. Akibatnya, ruang belanja untuk kebutuhan lain menjadi semakin terbatas.
Kondisi ini dinilai lebih berat karena kelas menengah tidak memperoleh bantalan bantuan sosial seperti kelompok rentan miskin. Mereka harus menanggung sendiri kenaikan biaya hidup di tengah pendapatan yang relatif stagnan.
Tekanan tersebut juga terjadi berbarengan dengan periode meningkatnya pengeluaran rumah tangga akibat tahun ajaran baru. Hal ini membuat beban konsumsi semakin bertambah dalam waktu yang bersamaan.
Dari sisi usaha, kenaikan Pertamax juga berpotensi memicu kenaikan biaya operasional di sejumlah sektor. Dampaknya dapat dirasakan pelaku usaha yang bergantung pada kendaraan berbahan bakar bensin nonsubsidi.
“Meski persentase kenaikannya masif yaitu naik sekitar 32 persen dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, efek dominonya terhadap inflasi umum tetap terkendali karena bukan kenaikan pada sektor logistik,” ujarnya. Ia menyebut dampaknya terhadap inflasi umum masih terbatas, namun tetap memberi tekanan pada inflasi inti. (ANT/RAI)