TEHERAN, AFU.ID - Dentuman belum benar-benar reda, tapi kata “damai” sudah kehilangan makna di medan yang masih berasap. Iran secara terbuka menyebut pembicaraan damai dengan Amerika Serikat sebagai sesuatu yang “tidak masuk akal”, setelah gelombang serangan Israel kembali menghantam Lebanon dengan intensitas paling mematikan sejauh ini.
Pernyataan keras itu datang dari Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf. Ia menilai gencatan senjata dua pekan yang diumumkan sebelumnya telah dilanggar sejak awal—bukan hanya oleh Israel yang terus menggempur Lebanon, tetapi juga oleh Washington yang tetap menekan Iran untuk menghentikan program nuklirnya.
“Dalam situasi seperti ini, negosiasi tidak masuk akal,” tegasnya.
Realitas di lapangan memperkuat nada itu. Serangan udara Israel menghantam berbagai titik, termasuk Beirut, menewaskan ratusan orang dalam sehari. Warga sipil kembali menjadi angka dalam statistik konflik, banyak di antaranya bahkan tanpa peringatan evakuasi. Kota yang seharusnya berdenyut dengan kehidupan berubah menjadi lanskap puing dan sirene.
Di sisi lain, Israel tak menyembunyikan sikap. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan militernya tetap “siap menarik pelatuk kapan saja”. Sementara dari Washington, Wakil Presiden JD Vance menegaskan bahwa gencatan senjata memang tidak mencakup Lebanon—sebuah celah yang kini berubah menjadi medan perang terbuka.
Ketegangan juga merembet ke jantung energi dunia. Selat Hormuz kembali berada dalam kendali ketat Iran. Lalu lintas kapal dibatasi, jalur distribusi minyak tersendat, dan dunia kembali diingatkan betapa sempitnya selat itu—namun betapa besar dampaknya.
Di tengah klaim kemenangan dari kedua pihak, fakta di lapangan justru menunjukkan kebuntuan. Donald Trump menyebut Iran siap menghentikan pengayaan uranium, bahkan menyerahkan cadangan yang ada. Namun Teheran membantah, menegaskan haknya untuk tetap melanjutkan program tersebut.
Dua narasi, dua kebenaran, dan satu konflik yang belum menemukan titik temu.
Meski pasar global sempat bereaksi positif—indeks saham naik dan harga minyak turun—ketidakpastian tetap menggantung. Perang lima pekan yang telah merenggut ribuan nyawa ini belum benar-benar berakhir. Ia hanya bergeser bentuk: dari dentuman rudal ke tarik-ulur kepentingan.
Di jalanan Teheran, sebagian warga merayakan—mengibarkan bendera, membakar simbol musuh. Namun di balik euforia itu, terselip keraguan. Apakah ini benar-benar kemenangan, atau sekadar jeda sebelum gelombang berikutnya datang?
Satu hal yang pasti: ketika peluru masih ditembakkan dan syarat-syarat damai masih diperdebatkan, kata “perdamaian” belum lebih dari sekadar wacana. Dan di Timur Tengah, wacana seringkali kalah cepat dari dentuman. (bs)