JAKARTA, AFU.ID – Sebanyak 152 pelajar asal Papua akan menempuh pendidikan tingkat SMA dan SMK melalui Program Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM) di Jawa Timur pada tahun ajaran 2026/2027. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meminta kepala sekolah dan guru mendampingi para pelajar selama mengikuti pendidikan di provinsi tersebut.
“Mereka adalah putra dan putri kita semua, sehingga tugas para kepala sekolah dan guru adalah membimbing mereka menjadi generasi terbaik, menjadi kebanggaan Indonesia dan Tanah Papua,” kata Khofifah di Kota Malang, Minggu (12/7/2026). Berdasarkan data Dinas Pendidikan Jawa Timur, peserta terdiri atas 15 pelajar dari Papua Barat, 30 dari Papua Tengah, 35 dari Papua Selatan, 40 dari Papua Pegunungan, dan 32 dari Jayapura.
Mereka akan belajar di sejumlah SMA dan SMK yang tersebar di Kota Batu, Kota Malang, Kabupaten Malang, Kota Kediri, Kota Madiun, Kabupaten Tuban, Kabupaten Jember, Kabupaten Nganjuk, Kota Probolinggo, dan Kabupaten Pasuruan. Para pelajar dijadwalkan mulai mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah pada Senin besok.
Khofifah meminta mereka memanfaatkan kesempatan belajar di Jawa Timur untuk menambah pengetahuan dan pengalaman. “Belajarlah dengan sungguh-sungguh di Jawa Timur, lalu pulang untuk membangun Papua dan menjaga Merah Putih,” ujarnya Lebih lanjut, kuota peserta ADEM Papua di Jawa Timur pada tahun ajaran 2026/2027 bertambah menjadi 152 pelajar dari sebelumnya 145 pelajar.
Program tersebut memberikan kesempatan kepada pelajar asal Papua untuk mengikuti pendidikan menengah di sekolah-sekolah yang menjadi mitra pemerintah. Pada tahun ajaran sebelumnya, terdapat 440 peserta ADEM Papua yang belajar di berbagai SMA dan SMK di Jawa Timur. Sebanyak 135 pelajar kelas XII telah dinyatakan lulus pada Mei 2026.
Dari jumlah tersebut, 51 peserta diterima di perguruan tinggi negeri melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi dan Seleksi Nasional Berdasarkan Tes. Ketua Komite Eksekutif Otorita Percepatan Pembangunan Papua Velix Wanggai mengatakan kesempatan belajar tersebut perlu dimanfaatkan sebagai bekal bagi para pelajar setelah kembali ke daerah asal.
Menurut Velix, peserta tidak hanya mengikuti kegiatan akademik, tetapi juga mendapatkan pengalaman kehidupan sosial dan budaya selama tinggal di Jawa Timur. “Anak-anak Papua yang belajar di sini tidak hanya mendapatkan ilmu di ruang kelas, tetapi juga dididik membangun karakter, mental, spiritual, wawasan kebangsaan, serta merasakan suasana budaya dan persaudaraan,” kata Velix. (FAD)