JAKARTA, AFU.ID — Sebanyak sembilan sekolah di Kecamatan Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, menerapkan pembelajaran secara online atau daring setelah serangkaian serangan monyet liar melukai sedikitnya 18 warga. Kebijakan tersebut diberlakukan sebagai langkah antisipasi untuk menjaga keselamatan siswa, guru, dan tenaga kependidikan selama proses penanganan satwa masih berlangsung. Pembelajaran jarak jauh dijadwalkan berlangsung pada 6 hingga 8 Agustus 2026 sebelum kembali dievaluasi oleh pemerintah daerah.
Keputusan tersebut diambil dalam rapat koordinasi yang melibatkan Pemerintah Kecamatan Tembilahan, Dinas Pendidikan Kabupaten Indragiri Hilir, kepala sekolah, komite sekolah, serta sejumlah instansi terkait. Sekolah yang terdampak berada di kawasan Parit 13 dan Parit 14, Kelurahan Tembilahan Hilir, mulai dari jenjang taman kanak-kanak, sekolah dasar, hingga sekolah menengah pertama. Camat Tembilahan Ari Syuria menegaskan, keselamatan peserta didik menjadi pertimbangan utama dalam penetapan kebijakan tersebut. "Pemerintah bersama seluruh unsur yang hadir dalam rapat sepakat mengambil langkah antisipatif dengan melaksanakan pembelajaran secara daring selama tiga hari," ujar Ari Syuria.
Teror monyet liar sendiri telah terjadi sejak 23 Juli 2026 dan hingga kini tercatat sedikitnya 18 warga menjadi korban. Serangan menyasar anak-anak hingga orang dewasa saat beraktivitas di luar rumah maupun ketika berada di dalam rumah. Tim gabungan dari Balai Besar KSDA Riau, TNI, Polri, Dinas Pemadam Kebakaran, dan unsur terkait pun terus melakukan pemantauan di sejumlah titik rawan.
Satu ekor monyet yang terlibat dalam rangkaian serangan berhasil ditangkap pada Kamis (6/8/2026) dan dibawa ke Pekanbaru untuk proses identifikasi perilaku. Meski demikian, petugas masih menemukan sejumlah monyet ekor panjang berkeliaran sehingga pemantauan terus dilakukan sebelum aktivitas belajar tatap muka kembali dibuka. Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Indragiri Hilir Junaidi Ismail mengatakan kondisi di lapangan masih terus dipantau. "Hari ini masih daring karena kita lagi lihat kondisi pasca satu ekor monyet kemarin ketangkap. Ada sembilan sekolah mulai dari tingkat TK, SD, dan SMP di sekitar Parit 13 dan 14 yang masih libur," kata Junaidi dikutip dari detikcom.
Di tengah proses penanganan tersebut, muncul desakan agar pemerintah tidak hanya berfokus menangkap satwa liar, tetapi juga menyelidiki penyebab monyet berulang kali memasuki kawasan permukiman. Anggota Komisi IV DPR Daniel Johan menyebut, perubahan habitat, seperti penyusutan tutupan hutan, kebakaran hutan dan lahan, atau alih fungsi lahan, dapat menjadi faktor yang mendorong satwa mencari sumber makanan di wilayah permukiman. Namun, hingga kini belum ada hasil investigasi resmi yang menyatakan kerusakan habitat sebagai penyebab langsung terjadinya serangan.
Pemerintah Kecamatan Tembilahan memastikan kebijakan pembelajaran daring bersifat sementara dan akan dievaluasi sesuai perkembangan penanganan di lapangan. Apabila situasi dinyatakan aman, kegiatan belajar mengajar secara tatap muka dijadwalkan kembali berlangsung mulai 10 Agustus 2026. Masyarakat juga diimbau tetap waspada, mengawasi anak-anak selama belajar dari rumah, serta tidak memancing keberadaan monyet liar hingga proses penanganan selesai. (RAI)