Bertahannya wisman dalam durasi yang sangat panjang mengonfirmasi, Papua Barat berhasil mengamankan ceruk pasar wisata premium eksklusif (quality tourism) yang bernilai tinggi.
Karakteristik tersebut tetap terjaga dengan sangat kuat, sekalipun secara administrasi, destinasi superprioritas Raja Ampat telah berpindah tangan ke Provinsi Papua Barat Daya.
Magnet pariwisata Papua Barat yang kini bertumpu pada keunikan Teluk Triton di Kaimana, pengamatan burung endemik di Pegunungan Arfak, hingga interaksi hiu paus di Teluk Cenderawasih, terbukti memiliki daya ikat yang kuat.
Sehingga, mahalnya modal transportasi dan paket perjalanan logistik ke wilayah tersebut membuat wisman yang datang bukan lagi berstatus sebagai turis anggaran rendah (budget tourist).
Akan tetapi, menjadi pelancong kelas atas yang sekali datang langsung mengunci durasi tinggal dalam jangka panjang.
Dampak ekonomi dari lamanya durasi tinggal wisman tersebut langsung terasa oleh bisnis perhotelan mewah setempat, melalui peningkatan keterisian tempat tidur secara drastis.
Ketika turis asing menghabiskan waktu rata-rata 7,06 malam, perputaran uang sektor akomodasi formal melesat stabil tanpa harus bergantung pada tingginya volume pergantian omzet tamu harian.
Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang di Papua Barat pun ikut terkerek naik sebesar 21,63% secara tahunan (year-on-year/Y-on-Y).
Adapun secara bulanan (month-to-month/M-to-M) mengalami kenaikan 11,16% dan kumulatif (cumulative-to-cumulative/C-to-C) mencapai 13,38%.
Hanya saja, pola konsumsi turis premium yang menginap lama di hotel bintang rentan menciptakan kantong ekonomi yang terisolasi (enclave tourism).
Sebab aliran devisa asing berputar besar di dalam manajemen hotel, tapi masih minim merembes ke sektor ekonomi riil masyarakat lokal di luar penginapan. (ADR)































