JAKARTA, AFU.ID — Sebanyak 12 sekolah di Aceh Tengah masih melakukan proses belajar mengajar di tenda darurat.
Kondisi itu terjadi setelah banjir dan tanah longsor melanda wilayah tersebut pada akhir November 2025.
Sekolah yang masih belajar di tenda tersebar di Kecamatan Ketol, Bintang, dan Linge.
Sebagian bangunan sekolah tidak bisa digunakan sama sekali.
Sebagian lainnya terpisah dari lokasi awal karena aliran sungai melebar setelah bencana.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Aceh Tengah Salimsyah mengatakan keselamatan siswa menjadi pertimbangan utama.
Ia menyebut sejumlah siswa khawatir melintasi sungai menuju sekolah asal.
“Keselamatan mereka tidak terjamin, sehingga terpaksa dibuat sekolah darurat sementara,” kata Salimsyah, Sabtu, (30/5/2026).
Pemerintah daerah kini menyiapkan ruang belajar darurat sebagai solusi jangka pendek.
Ruang belajar itu diupayakan menggunakan rumah warga atau sekolah terdekat yang masih memungkinkan.
Langkah tersebut dilakukan agar siswa tidak terlalu lama belajar di tenda.
Namun, pembangunan sekolah permanen masih terkendala administrasi lahan.
Salimsyah menyebut surat tanah menjadi syarat utama pengusulan pembangunan sekolah baru.
Kendala itu ditemukan setelah pemerintah daerah turun ke lapangan dan meminta keterangan kepala desa serta kepala sekolah.
Kementerian Dalam Negeri juga meminta pemerintah daerah mempercepat penyediaan sekolah sementara.
Sekolah sementara dinilai lebih layak dibanding proses belajar yang terus berlangsung di tenda darurat.
Pemerintah daerah diminta mempercepat solusi sebelum pembangunan sekolah permanen terealisasi. (RHU)