JAKARTA, AFU.ID - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., resmi meresmikan SMA Muhammadiyah Conservation (SMAMCO) Manokwari di kawasan Arfai, Papua Barat, Kamis (28/5/2026). Sekolah ini mencetak sejarah baru sebagai institusi pendidikan berbasis konservasi pertama di Indonesia, sekaligus menjadi simbol kuat inklusivitas dan toleransi di tanah Papua.
Menariknya, meskipun berada di bawah naungan lembaga Islam, mayoritas siswa di SMAMCO—sekitar 60 hingga 70 persen—merupakan anak-anak asli Papua yang memeluk agama non-Muslim. Langkah ini membuktikan bahwa pendidikan karakter berbasis kelestarian alam mampu berjalan beriringan dengan keterbukaan ragam latar belakang religi.
“SMAMCO Manokwari memiliki ciri khas yang sangat baik karena mengintegrasikan pendidikan dengan konservasi lingkungan. Ini selaras dengan arah kebijakan pemerintah dalam membangun generasi yang unggul sekaligus memiliki kesadaran menjaga alam,” ujar Abdul Mu'ti, dalam siaran pers yang diterima AFU.ID, Minggu (31/5/2026).
Berdirinya SMAMCO merupakan buah dari kegelisahan teologis dan ekologis terhadap kerusakan lingkungan. Ketua Pengurus Wilayah Muhammadiyah (PWM) Papua Barat, Dr. Mulyadi Djaya, mengungkapkan bahwa sekolah ini lahir untuk menjawab tantangan eksploitasi alam dengan mengangkat kearifan lokal masyarakat Pegunungan Arfak.
Perjalanan fisik sekolah ini pun terbilang inspiratif. Setahun lalu, SMAMCO memulai aktivitasnya hanya dengan memanfaatkan bangunan bekas klinik kesehatan. Namun, berkat tingginya antusiasme masyarakat dan semangat gotong royong yang kuat, sebanyak 13 bangunan sekolah beserta fasilitas pendukungnya berhasil diselesaikan hanya dalam waktu empat bulan.
Peluncuran sekolah ini juga menandai dimulainya Kurikulum Konservasi SMAMCO, sebuah cetak biru (blueprint) hasil kolaborasi strategis antara sekolah, EcoBhinneka Muhammadiyah, dan WWF-Indonesia. Kurikulum dirancang kontekstual dengan memadukan sains, nilai agama, dan kearifan lokal setempat melalui tiga prinsip utama: "Belajar Rasa, Belajar Karakter, dan Belajar Karya".
Siswa tidak sekadar menghafal teori di dalam kelas, melainkan diajak bersentuhan langsung dengan alam melalui materi sekolah hijau, seperti konservasi dan perlindungan hutan Papua, pengenalan dan pelestarian satwa endemik, dan pengelolaan serta budidaya pangan lokal.
Direktur EcoBhinneka Muhammadiyah, Hening Parlan, menegaskan pentingnya praktik nyata ini. “Krisis iklim tidak bisa diselesaikan hanya dengan teori. Anak-anak harus dibiasakan hidup bersama alam dan membangun kesadaran bahwa menjaga bumi adalah tanggung jawab lintas generasi dan agama,” jelasnya.
Pendekatan inovatif SMAMCO mendapat apresiasi tinggi dari para aktivis lingkungan. Direktur Konservasi WWF-Indonesia, Dewi Lestari Yani Rizki, menyebut keberadaan sekolah ini sangat krusial mengingat Papua Barat merupakan wilayah dengan biodiversitas terpenting di dunia sekaligus benteng terakhir hutan Indonesia.
"Pendidikan ini memastikan generasi muda Papua tidak tercerabut dari identitas ekologisnya," jelasnya.
Pemerintah daerah melalui Sekretaris Daerah Papua Barat, Ali Baham Temongmere, bersama Bupati Manokwari, Hermus Indou, menyatakan dukungan penuh terhadap keberlanjutan sekolah ini, termasuk program pelatihan guru yang diproyeksikan berjalan intensif selama tiga tahun ke depan.
Meski berstatus unit sekolah baru, siswa SMAMCO telah menunjukkan taji lewat torehan prestasi dalam lomba berkebun di lahan kering. Ke depan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah memproyeksikan SMAMCO Manokwari sebagai model percontohan nasional yang siap direplikasi oleh berbagai lembaga pendidikan di seluruh wilayah Indonesia.
MAR