Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Temukan Kasus Keracunan, Kepala BGN Larang Siswa Bawa Pulang Menu MBG
Bagikan:
Penulis: Adriyan Adirizky Rahmat · Reporter: Adriyan Adirizky R
Ringkasan Berita
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, melarang siswa membawa pulang makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) setelah menemukan kasus keracunan yang terjadi akibat penurunan kualitas makanan ketika tidak diawasi. Ia menekankan pentingnya siswa mengonsumsi makanan di lokasi dan waktu yang ditetapkan untuk mencegah risiko keracunan, yang juga dapat berdampak pada anggota keluarga lainnya. BGN berkomitmen untuk meningkatkan pengawasan dan edukasi kepada sekolah agar pelaksanaan program ini tetap aman dan bergizi.
Kepala BGN, Sudaryono, mengimbau siswa tak membawa pulang menu MBG ke rumah. (Foto: BGN)
JAKARTA, AFU.ID — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menghadapi persoalan keamanan, ketika siswa membawa pulang dan mengonsumsinya di luar pengawasan. Perubahan kondisi penyimpanan dapat memengaruhi kualitas makanan, sebelum penerima manfaat maupun anggota keluarga menikmatinya. Risiko itu membuat kepatuhan terhadap waktu dan tempat konsumsi menjadi bagian penting dalam pelaksanaannya.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, menyatakan peserta didik sebaiknya menikmati hidangan sesuai ketentuan. Pihaknya meminta seluruh penerima manfaat mengonsumsi makanan di lokasi dan waktu yang telah ditetapkan. Pihak sekolah dan tenaga pendidik pun harus memberi pemahaman kepada siswa mengenai ketentuan itu.
Sudaryono menjelaskan, persoalan kerap muncul ketika telah keluar dari pengawasan karena penerima manfaat membawa pulang makanan ke rumahnya. Kondisi penyimpanan di rumah dapat berbeda dengan standar penanganan makanan selama proses pendistribusian hingga sampai ke tangan siswa. Perbedaan itu membuat BGN sulit memastikan kualitas makanan ketika konsumsi berlangsung beberapa waktu kemudian.
Mas Dar, sapaan akrab Sudaryono, lantas melarang siswa membawa pulang menu MBG ke rumah. “Karena kita tidak tahu kualitasnya dan kerusakan yang bisa terjadi. Kita mengkhawatirkan bisa menimbulkan keracunan bagi siswa yang mengonsumsi,” ungkapnya, Senin (10/8/2026).
Kepala BGN menyampaikan, risiko keracunan bahkan tak hanya berpotensi berdampak kepada siswa penerima makanan program. Pihaknya menemukan persoalan keamanan yang melibatkan pihak lain di luar penerima manfaat. “Di beberapa kasus, orang tua siswa yang mengonsumsi MBG di rumah juga mengalami keracunan,” tuturnya.
Oleh karenanya, BGN meminta sekolah dan tenaga pendidik berperan dalam mencegah siswa membawa pulang menu MBG. Edukasi itu penting agar penerima manfaat memahami konsekuensi keamanan pangan di luar ketentuan waktu dan tempat. Pengawasan di lingkungan sekolah menjadi salah satu titik penting untuk memastikan makanan segera dikonsumsi sesuai prosedur.
MBG Harus Aman, Selain Memenuhi Kebutuhan Gizi
Lebih lanjut, BGN menempatkan keamanan pangan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari keberhasilan program. Pemenuhan kebutuhan gizi penerima manfaat tak cukup apabila makanan mengalami penurunan kualitas. Pengawasan dan pemantauan perlu berjalan sejak makanan sampai ke tangan siswa hingga menikmati hidangannya.
Sudaryono menegaskan, pihaknya akan terus memperkuat pelayanan, pengawasan, pemantauan, dan kolaborasi bersama para stakeholder. Sehingga, pelaksanaan program pemenuhan gizi nasional berjalan dengan baik dan memberikan manfaat bagi masyarakat. “Mari kita sama-sama jaga agar MBG ini aman dan bergizi,” pungkas Kepala BGN.
Pelaksanaan MBG menghadapi tantangan yang bukan hanya berkaitan dengan pendistribusian dan kecukupan gizi. Risiko perubahan kualitas makanan pascadibawa pulang, menunjukkan pentingnya kedisiplinan konsumsi dan pengawasan di tingkat sekolah. BGN pun harus memastikan edukasi dan pengawasan itu berjalan konsisten agar tujuan pemenuhan gizi tak terbayangi persoalan keamanan pangan. (ADR)