JAKARTA, AFU.ID - Generasi Z yang berada pada rentang usia 20 hingga 30 tahun mencatatkan tingkat kepercayaan diri paling tinggi dalam memandang kondisi perekonomian Indonesia saat ini maupun prospeknya di masa depan. Berdasarkan Survei Keyakinan Konsumen periode Juli 2026 yang dirilis oleh Bank Indonesia (BI), kelompok usia muda ini memimpin Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) dengan skor mencapai 122,9 poin.
Capaian tersebut berada jauh di atas rata-rata nasional serta jauh melampaui ambang batas netral 100 poin yang memisahkan zona optimis dan pesimis berdasarkan metode perhitungan balance score. Ketahanan optimisme kalangan Gen Z tercermin secara merata pada berbagai indikator turunan ekonomi saat ini.
Pada Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI), kelompok usia 20–30 tahun mencetak angka tertinggi sebesar 124,9, melampaui rata-rata nasional yang bertengger di posisi 118,5. Daya beli kelompok muda terhadap produk jangka panjang juga tetap kuat, terlihat dari Indeks Pembelian Barang Tahan Lama (IPDG) yang menyentuh angka 109,5, mengungguli kelompok usia 31–40 tahun yang mencatatkan angka 106,0.
Keyakinan mereka terhadap masa depan makin terkonfirmasi melalui Indeks Ekspektasi Penghasilan enam bulan mendatang yang menembus angka 139,0, melampaui ekspektasi kelompok usia 31–40 tahun sebesar 137,7. Secara umum, hasil survei Bank Indonesia mengonfirmasi bahwa keyakinan masyarakat Indonesia terhadap kondisi perekonomian nasional pada Juli 2026 secara keseluruhan masih terjaga dengan solid.
"Survei Konsumen Bank Indonesia pada Juli 2026 mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi tetap terjaga dengan IKK Juli yang berada pada level optimis sebesar 116,8," tulis laporan BI, diktuip Selasa (11/8/2026).
Meskipun angka IKK tersebut sedikit melandai dibandingkan posisi Juni 2026 yang tercatat sebesar 117,8, posisinya masih berada dalam koridor optimisme yang kuat. Penopang utama terjaganya keyakinan konsumen nasional ditopang oleh dua indikator utama, yaitu Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) sebesar 107,9 dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) yang mencapai 125,7.
"Meskipun angka tersebut lebih rendah dibandingkan dengan indeks bulan sebelumnya masing-masing sebesar 109,2 untuk IKE dan 126,4 untuk IEK," lanjut penjelasan pihak BI.
Untuk persepsi ketersediaan lapangan kerja nasional, Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK) berada di level 101,1. Menariknya, kelompok usia 20–40 tahun masih mempertahankan cara pandang positif terhadap peluang kerja, sedangkan responden yang berusia di atas 41 tahun mulai bergeser masuk ke zona pesimistis.
Sementara itu, ekspektasi ekonomi enam bulan mendatang tetap kuat disokong oleh tingginya optimisme prospek penghasilan sebesar 133,6, ketersediaan lapangan kerja sebesar 123,1, serta geliat kegiatan usaha sebesar 120,4. Meskipun indikator optimisme konsumen secara keseluruhan tergolong tinggi, masyarakat tetap menerapkan pola pengelolaan keuangan rumah tangga secara terukur dan disiplin.
Bank Indonesia mengulas, porsi pendapatan rata-rata konsumen yang dialokasikan untuk konsumsi berada di tingkat 72,7 persen, relatif stabil dibandingkan posisi bulan sebelumnya yang sebesar 73,0 persen. Adapun alokasi pendapatan untuk pembayaran cicilan atau kewajiban utang mengalami kenaikan tipis menjadi 10,5 persen dari sebelumnya 10,0 persen.
Di sisi lain, porsi pendapatan masyarakat yang disisihkan untuk simpanan atau tabungan tercatat sebesar 16,8 persen. Temuan komprehensif ini diperoleh dari pelaksanaan Survei Konsumen BI yang melibatkan sekitar 4.600 rumah tangga responden di 18 kota besar di Indonesia menggunakan metode stratified random sampling. (MAR)