JAKARTA, AFU.ID — Said Didu akhirnya bicara tanpa rem. Bukan lagi kritik halus, tapi frustrasi terang-terangan ke Prabowo Subianto. Dan nadanya jelas: ini bukan sekadar beda pandangan, ini soal arah bangsa yang dianggap makin kabur.
Awalnya, Said Didu masih memberi kredit. Ia bilang menghargai niat Prabowo—narasi nasionalisme, patriotisme, segala jargon yang dulu dijual ke publik. Tapi sekarang? Ia mengaku sudah sampai titik jenuh.
“Dulu saya masih hargai niatnya, sekarang? Lama-lama kita bisa gila mikirin caranya,” begitu kira-kira inti ledakannya.
Masalahnya sederhana tapi serius: janji tidak nyambung dengan realita. Retorika besar soal cinta tanah air, tapi di lapangan yang terlihat justru menjauh dari itu. Said Didu bahkan mulai mempertanyakan hal yang lebih dalam—ini sebenarnya penyimpangan, atau memang ini wajah asli kekuasaan yang sekarang?
Ia juga menolak diskusi yang terlalu “tinggi”. Baginya, persoalan bangsa bukan teori di seminar, tapi masalah konkret yang ada di depan mata. Dan ia menuding lingkar kekuasaan justru sibuk membahas hal-hal yang tidak menyentuh akar persoalan.
Yang lebih keras, Said Didu mengajak publik berpikir: Indonesia ini makin selamat atau justru makin berbahaya? Kalau makin baik, ya kritik berhenti. Tapi kalau makin buruk, justru perlawanan harus dinaikkan.
Ia juga menyinggung sinyal-sinyal aneh dari dalam dan luar negeri—indikasi bahwa ada yang tidak beres di pusat kekuasaan. Bahkan ia menyentil fenomena publik: kritik terhadap presiden yang kini makin liar, makin terbuka, dan makin brutal. Menurutnya, itu bukan kebetulan—itu tanda keresahan yang nyata.
Buat Said Didu, kunci negara itu sederhana: patriotisme dan nasionalisme yang konsisten. Bukan slogan, tapi sikap. Kalau itu hilang, katanya, negara bukan cuma salah arah—bisa menuju kehancuran.
Di ujung pernyataannya, ia masih menyisakan harapan, meski terdengar tipis. Ia ingin Prabowo kembali ke “versi awal” yang dulu dijanjikan. Tapi bahkan di situ pun ia ragu—karena ada yang bilang, justru yang sekarang ini adalah versi aslinya.
Dan di situlah masalahnya: kalau ini memang versi asli, lalu selama ini publik dijual apa? (*)