JAKARTA, AFU.ID – Kesepian sering dianggap sekadar persoalan perasaan. Padahal, ketika berlangsung lama, kondisi itu dapat ikut memengaruhi cara otak bekerja, mulai dari konsentrasi, tidur, suasana hati, hingga kemampuan mengingat.
Di tengah kehidupan yang serba terhubung, merasa sendiri justru menjadi pengalaman yang tidak asing. Notifikasi terus masuk, percakapan terjadi sepanjang hari, tetapi tidak semua interaksi menghadirkan rasa dekat atau dimengerti.
Ahli neurologi Dr. Kunal Bahrani mengatakan hubungan sosial memiliki peran penting untuk menjaga kerja otak. Percakapan, pengalaman bersama, dan relasi yang berkelanjutan disebut memberi stimulasi yang dibutuhkan otak dalam menjalankan fungsi kognitif dan mengatur emosi.
“Ketika seseorang mengalami kesepian yang berkepanjangan, otak dapat tetap dalam keadaan kewaspadaan tinggi, yang menyebabkan peningkatan kadar hormon stres seperti kortisol,” kata Bahrani.
Kondisi tersebut, menurut dia, dapat memengaruhi kualitas tidur, fokus, memori, dan suasana hati. Dalam jangka panjang, kesepian yang menetap juga dikaitkan dengan berkurangnya stimulasi mental yang dibutuhkan otak agar tetap fleksibel seiring bertambahnya usia.
“Hubungan sosial bagi otak sama pentingnya dengan olahraga bagi tubuh,” ujarnya.
Kesepian tidak selalu berarti hidup sendirian. Seseorang dapat tinggal bersama keluarga, bekerja di tengah banyak orang, atau aktif di media sosial, tetapi tetap merasa tidak memiliki hubungan yang bermakna.
Sebaliknya, waktu sendiri juga tidak selalu buruk. Menyendiri bisa menjadi ruang untuk beristirahat, berpikir, atau memulihkan energi. Yang menjadi persoalan adalah ketika seseorang mulai merasa terputus dari lingkungan dalam waktu lama dan kesulitan membangun kembali hubungan.
Ahli neurologi dari Apollo Speciality Hospitals di Chennai, Dr. Sreenivas UM, menyebut sejumlah penelitian mengaitkan kesepian dengan perubahan pada area otak yang berperan dalam memori, penalaran, berpikir, dan pengambilan keputusan.
Ia juga mengingatkan bahwa isolasi sosial dapat memperberat kondisi pada orang yang telah memiliki gangguan neurologis, seperti stroke, epilepsi, Parkinson, multiple sclerosis, maupun demensia.
Dalam kehidupan sehari-hari, dampak kesepian sering muncul secara perlahan. Seseorang mulai enggan membalas pesan, menolak ajakan bertemu, kehilangan minat pada kegiatan yang dulu disukai, atau merasa interaksi sosial terlalu melelahkan.
Situasi itu dapat membentuk lingkaran yang sulit diputus. Ketika seseorang semakin menarik diri, kesempatan untuk mendapatkan dukungan emosional dan stimulasi sosial ikut berkurang. Akibatnya, rasa sepi justru semakin menguat.
Namun, kesepian bukan keadaan yang tidak bisa berubah. Memulai kembali hubungan tidak selalu harus lewat langkah besar. Menghubungi teman lama, mengikuti kegiatan komunitas, belajar keterampilan baru, berolahraga, atau menekuni hobi dapat menjadi jalan kecil untuk kembali terhubung.
Bagi orang yang merasa kesepian mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, tidur, nafsu makan, atau suasana hati dalam waktu lama, mencari bantuan profesional dapat menjadi langkah penting. Sebab, merawat kesehatan otak tidak hanya soal makan sehat dan olahraga, tetapi juga tentang merasa memiliki tempat untuk pulang dan orang untuk berbagi. (RHU)