JAKARTA, AFU.ID — Presiden Prabowo Subianto menyebut Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Mesir berpotensi ikut menginginkan senjata nuklir apabila perlombaan persenjataan atom terjadi di Timur Tengah. Namun, dokumen resmi Badan Energi Atom Internasional atau IAEA menunjukkan keempat negara saat ini memiliki status program nuklir yang berbeda-beda. Program yang diumumkan secara terbuka berkaitan dengan pembangkit listrik, riset, kesehatan, industri, dan penggunaan teknologi atom untuk tujuan damai.
Prabowo menyampaikan pernyataan tersebut saat bertemu pengurus Kamar Dagang dan Industri Indonesia dari pusat dan daerah di Istana Negara. Ia menilai isu kepemilikan senjata nuklir Iran dapat menimbulkan efek berantai terhadap negara lain di kawasan. Prabowo kemudian menyebut Arab Saudi terlebih dahulu, disusul UEA, Qatar, dan Mesir sebagai negara yang mungkin menginginkan kemampuan serupa.
“Kalau Saudi Arabia ingin punya senjata nuklir, tidak menutup kemungkinan Emirat juga mau punya senjata nuklir,” kata Prabowo di Jakarta, Jumat (31/07/26). Ia kemudian menyebut Qatar dan Mesir dalam kemungkinan perlombaan senjata tersebut. Pernyataan itu disampaikan sebagai gambaran mengenai risiko eskalasi konflik di Timur Tengah, bukan pengumuman resmi dari keempat negara.
Arab Saudi memang sedang membangun infrastruktur untuk memasukkan tenaga nuklir ke dalam bauran energinya. IAEA menyebut negara tersebut masih berada pada tahap awal pengembangan program pembangkit nuklir dan mengikuti pendekatan bertahap untuk menyiapkan lembaga, sumber daya manusia, regulasi, serta sistem pengelolaannya. Pada 2026, IAEA juga memulai proyek kerja sama untuk mendukung pengoperasian dan pemanfaatan reaktor riset berdaya rendah secara aman.
Uni Emirat Arab telah lebih dahulu mengoperasikan empat reaktor di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Barakah. Keempat unit tersebut mampu memasok hingga seperempat kebutuhan listrik negara itu dan secara resmi ditempatkan sebagai bagian dari program energi bersih. UEA juga menyatakan tunduk pada perjanjian pengawasan IAEA dan Protokol Tambahan serta menegaskan penggunaan teknologi nuklirnya untuk tujuan damai.
Berbeda dengan UEA, Qatar belum memiliki instalasi nuklir maupun fasilitas penyimpanan dan pengolahan bahan bakar nuklir. Laporan nasional Qatar kepada IAEA pada 2025 menyebut negara tersebut juga belum mempunyai rencana nasional untuk membangun pembangkit listrik tenaga nuklir. Penggunaan teknologi atom di Qatar saat ini terbatas pada bidang kesehatan, pertanian, industri, lingkungan, dan pemantauan radiasi.
Mesir sedang membangun pembangkit listrik tenaga nuklir pertamanya di El Dabaa, pesisir Laut Mediterania. Proyek tersebut terdiri atas empat reaktor VVER-1200 dengan total kapasitas terpasang 4.800 megawatt. Data IAEA menunjukkan keempat reaktor masih berada dalam tahap konstruksi dan dipersiapkan untuk menghasilkan listrik, bukan diumumkan sebagai fasilitas persenjataan.
Arab Saudi, UEA, Qatar, dan Mesir juga tercakup sebagai negara pihak dalam Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir atau NPT. Sebagai negara nonpemilik senjata nuklir dalam perjanjian tersebut, mereka memiliki kewajiban internasional untuk tidak menerima, membuat, atau memperoleh senjata nuklir. Dokumen Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut seluruh negara Timur Tengah selain Israel telah menjadi pihak dalam NPT.
Keberadaan reaktor, fasilitas riset, maupun program pembangkit nuklir tidak dengan sendirinya menunjukkan pengembangan senjata atom. Teknologi yang sama dapat digunakan untuk menghasilkan listrik, pengobatan, pertanian, dan kegiatan industri, sedangkan program persenjataan memerlukan keputusan politik, fasilitas, serta aktivitas yang berbeda. Berdasarkan dokumen resmi yang tersedia, belum ditemukan pengumuman bahwa UEA, Qatar, atau Mesir sedang menjalankan program senjata nuklir, sementara Arab Saudi secara terbuka masih membangun fondasi program energi nuklir sipil.
Pernyataan Prabowo karena itu menggambarkan kekhawatiran terhadap kemungkinan efek domino perlombaan senjata di Timur Tengah. Adapun kondisi faktual saat ini menunjukkan empat negara yang disebut memiliki tingkat pengembangan program atom yang tidak sama, dari Qatar yang belum memiliki instalasi nuklir hingga UEA yang telah mengoperasikan empat reaktor pembangkit. Seluruh program resmi yang tercatat dalam dokumen IAEA masih ditempatkan dalam kerangka pemanfaatan nuklir untuk tujuan damai dan pengawasan internasional. (RHU)