Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Jangan Ketinggalan! Hujan Meteor Perseid Akan Hiasi Langit Indonesia Nanti Malam, Cek Jam dan Cara Melihatnya
Bagikan:
Penulis: Raihan Immaduddin
Ilustrasi hujan meteor (Foto: Dai Jianfeng/IAU OAE/Jeff Dai/Wikimedia Commons/CC BY 4.0)
JAKARTA, AFU.ID — Hujan meteor Perseid akan mencapai puncaknya pada Kamis (13/8/2026) dini hari dan dapat diamati dari Indonesia. Fenomena ini tahun ini berlangsung bertepatan dengan fase bulan baru sehingga cahaya Bulan hampir tidak mengganggu kondisi langit malam. Situasi tersebut membuat meteor yang lebih redup berpeluang terlihat, terutama dari lokasi yang jauh dari polusi cahaya.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyarankan pengamatan dilakukan di tempat yang memiliki langit gelap, terbuka, dan minim gangguan cahaya. Dalam kondisi ideal, BRIN memperkirakan sekitar 1-2 meteor dapat terlihat setiap menit saat puncak Perseid. Sementara itu, NASA memperkirakan 50-100 meteor per jam dapat terlihat di bawah kondisi langit yang benar-benar gelap, sedangkan American Meteor Society memperkirakan sekitar 30-50 meteor per jam dari wilayah pedesaan.
Perseid adalah hujan meteor yang tampak seolah-olah berasal dari arah rasi bintang Perseus. Fenomena tersebut terjadi ketika Bumi melewati jalur debu dan material yang ditinggalkan Komet 109P/Swift-Tuttle, lalu partikel-partikel itu memasuki atmosfer dengan kecepatan tinggi hingga berpijar sebagai garis cahaya. Karena Bumi kembali melintasi jalur material komet tersebut setiap tahun, hujan meteor Perseid muncul secara rutin pada periode yang relatif sama.
Waktu terbaik untuk mengamati Perseid di Indonesia adalah menjelang dini hari hingga subuh pada 13 Agustus 2026. BRIN menyebut pengamatan dapat dilakukan sekitar pukul 24.00 WIB hingga 04.00 WIB ketika langit semakin gelap dan posisi Perseus mendukung pengamatan. Pengamat disarankan memilih lokasi dengan pandangan ke arah Timur Laut yang terbuka serta memastikan area tersebut tidak tertutup gedung, pepohonan, atau awan.
Pengamatan Perseid tidak membutuhkan teleskop maupun binokular karena mata telanjang justru memberikan bidang pandang yang lebih luas. Pengamat sebaiknya memberi waktu sekitar 30 menit agar mata beradaptasi dengan kondisi gelap serta menghindari layar ponsel atau sumber cahaya terang selama proses pengamatan. Kondisi cuaca dan tingkat kegelapan langit tetap menjadi faktor yang menentukan jumlah meteor yang benar-benar dapat terlihat.
Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika BRIN Thomas Djamaluddin menjelaskan Perseid menjadi salah satu hujan meteor yang menarik karena tergolong kuat. Fenomena ini telah diamati selama lebih dari 2.000 tahun dan cukup sering menghasilkan meteor yang sangat terang atau fireball. “Setiap tahun, Bumi berpapasan dengan sisa debu komet sehingga terjadi fenomena hujan meteor yang memiliki arah dan waktu kemunculan yang tetap setiap tahun,” ujar Thomas dikutip dari laman X, BRIN Indonesia. (RAI)
Cara Melihat Hujan Meteor Perseid
Pilih lokasi yang minim polusi cahaya.
Pastikan pandangan ke arah Timur Laut tidak terhalang gedung atau pepohonan.
Pastikan langit di arah Timur Laut cerah dan tidak tertutup awan.
Arahkan pandangan ke langit Timur Laut dan amati meteor yang melesat dari arah rasi Perseus.
Gunakan mata telanjang, tanpa teleskop atau binokular.
Beri waktu sekitar 30 menit agar mata beradaptasi dengan kegelapan.
Hindari melihat layar ponsel atau sumber cahaya terang selama pengamatan.