JAKARTA, AFU.ID — Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia (KKP RI) terus memperkuat upaya perlindungan penyu sebagai spesies yang dilindungi.
Salah satunya melalui pengembangan model kolaborasi konservasi di Kawasan Konservasi Nasional Kepulauan Anambas, Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).
Pendekatan tersebut mengedepankan sinergi antara pemerintah, mitra, pemerintah daerah (pemda), dan masyarakat sebagai kunci keberhasilan pengelolaan yang berkelanjutan.
Kolaborasi diperkuat melalui pelatihan penandaan penyu menggunakan metal tag yang dilaksanakan beberapa waktu lalu di Pulau Mangkai, Kabupaten Anambas, Provinsi Kepri.
Pelatihan pendataan tersebut sebagai bagian dari upaya meningkatkan sistem pemantauan dan pendataan populasi penyu secara berkelanjutan.
Direktur Jenderal (Dirjen) Pengelolaan Kelautan KKP RI, A Koswara, menyampaikan bahwa Pulau Mangkai mempunyai nilai strategis sebagai pulau terluar Indonesia, sekaligus habitat penting pendaratan penyu.
“Pulau Mangkai juga merupakan bagian dari Kawasan Konservasi Kepulauan Anambas yang dikelola KKP,” ungkapnya dikutip AFU.ID dari website KKP RI, Sabtu (30/5/2026).
“Karena itu, pengelolaannya tidak hanya difokuskan pada perlindungan ekosistem, tetapi juga diarahkan untuk mendorong manfaat ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat melalui pengembangan ekowisata berbasis konservasi,” sambungnya.
Rahmad Hidayat selaku Kepala Loka Pengelolaan Kelautan Pekanbaru menyatakan model kolaborasi menjadi langkah strategis dalam memperkuat perlindungan penyu secara terpadu.
“Kolaborasi multipihak memungkinkan pengelolaan konservasi berjalan lebih efektif karena melibatkan masyarakat sebagai garda terdepan dalam menjaga keberlanjutan habitat penyu,” tuturnya.
Ia menjelaskan, hasil pemantauan konservasi penyu menunjukkan tren yang positif sepanjang periode 2022 hingga 2025.
Tercatat 3.139 pendaratan penyu berhasil dimonitor, dengan 2.858 sarang direlokasi untuk meningkatkan keberhasilan penetasan sekaligus meminimalkan ancaman predator.
Dari total 259.221 butir telur yang terdata, sebanyak 224.075 telur berhasil menetas, dengan 221.635 tukik telah dilepasliarkan ke habitat alaminya.
Selain itu, KKP RI bersama mitra terus meningkatkan kapasitas masyarakat lokal sebagai petugas perlindungan penyu melalui pelatihan pemasangan metal tag.
Kegiatan tersebut bertujuan untuk mengidentifikasi individu penyu, memantau pola migrasi, serta memperkuat basis data ilmiah sebagai dasar pengambilan kebijakan yang lebih optimal dan berdampak.
Ke depan, pengembangan konservasi penyu di Pulau Mangkai akan diperkuat melalui penyediaan fasilitas pendukung seperti rumah jaga, energi terbarukan, air bersih, serta program edukasi dan adopsi sarang penyu.
Inisiatif tersebut diharapkan dapat menjadikan kawasan tersebut sebagai pusat edukasi, sekaligus destinasi ekowisata berbasis konservasi di wilayah perbatasan Indonesia.
Menteri KKP RI, Sakti Wahyu Trenggono, menegaskan pengembangan model kolaborasi akan terus diperluas sebagai bagian dari strategi nasional perlindungan spesies laut dilindungi.
“Hal ini sejalan dengan kebijakan yang menekankan pentingnya penguatan ekonomi biru melalui perlindungan ekosistem laut,” ujarnya.
“Termasuk salah satunya adalah konservasi penyu, guna menjaga keberlanjutan sumber daya laut sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir,” pungkasnya. (ADR)