JAKARTA, AFU.ID — Sebuah usaha batik berbasis komunitas di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, membuktikan pelestarian hutan adat dan pengembangan ekonomi lokal bisa berjalan beriringan. Batik Valiri, yang berpusat di Desa Beka, Kecamatan Marawola, mengolah kekayaan alam Hutan Ranjuri dan kearifan budaya Kaili menjadi produk batik bernilai ekonomi tinggi sekaligus destinasi ekowisata yang menarik minat tamu mancanegara.
Sang penggagas, Afrianto diketahui mendirikan Batik Valiri pada 2019 setelah bertahun-tahun bekerja sebagai karyawan batik di Kota Palu. Ia melihat kekayaan alam, budaya, dan sejarah Sigi belum tergarap dalam industri batik. "Selama ini batik identik dengan motif Jawa. Padahal di Sigi, kita punya kekayaan alam, budaya, dan sejarah yang sangat kuat. Dari Hutan Ranjuri saja, yang jaraknya hanya sekitar 50 meter dari tempat produksi, saya melihat ada banyak hal yang bisa diangkat," ujarnya dalam pernyataan tertuls yang diterima AFU.ID, Rabu (8/7/2026).
Diketahui, hutan Ranjuri seluas sekitar 9 hektare yang dijaga secara turun-temurun oleh masyarakat adat setempat menjadi inti dari seluruh proses produksi. Tanaman di dalam hutan itu menjadi sumber pewarna alami: daun rau menghasilkan rona krem, daun mangga memberi warna kuning kehijauan, sementara daun kayu jati dan ketapang menciptakan nuansa cokelat kemerahan hingga hitam.
Proses pewarnaan tidak sederhana, mulai dari sepuluh kilogram daun kering hanya cukup untuk mewarnai sekitar lima lembar kain, dengan perebusan hingga empat jam dan pencelupan berulang hingga dua puluh kali. "Kalau pewarna sintetis cukup satu kali celup, warna langsung keluar. Tapi pewarna alami butuh kesabaran. Itu yang membuat nilainya berbeda," kata Afrianto,
Keunikan Batik Valiri terletak pada motifnya yang berakar dari identitas lokal. Motif taiganja yang menggambarkan benda sakral berbentuk liontin yang digunakan dalam upacara adat Kaili dan kerap menjadi mahar pernikahan, melambangkan kesuburan, cinta, dan ketulusan hati.
Selain itu, Batik Valiri juga mengangkat motif Pohon Rau dari Hutan Ranjuri, daun kelor, senjata tradisional guma, hingga jejak megalitik yang tersebar di wilayah Sigi. Dari sisi teknik, Batik Valiri memadukan cap dan canting dengan pendekatan kontemporer seperti sapuan kuas abstrak dan batik ciprat.
Dalam pemanfaatan bahan alam, masyarakat adat Desa Beka menerapkan prinsip pengambilan terbatas: hanya daun yang telah gugur yang boleh dipungut, tanpa penebangan pohon. Setiap aktivitas di kawasan Hutan Ranjuri harus melalui izin adat dan rembuk bersama tokoh adat. Hutan ini bukan sekadar sumber bahan baku — saat banjir bandang melanda Sigi, hutan ini berfungsi sebagai penyangga alami, sekaligus menjadi sumber air bersih warga saat musim kemarau.
Transformasi Batik Valiri dipercepat melalui program inkubasi Gampiri Interaksi, yang memberikan pendampingan intensif selama delapan bulan mencakup tata kelola kelembagaan, standar operasional produksi, penguatan sumber daya manusia, hingga akses pasar dan permodalan. "Batik Valiri sudah kuat secara sosial dan budaya, tapi aspek lingkungannya perlu diperkuat. Lewat workshop dan kolaborasi, kami mendorong transisi ke pewarna alami tanpa merusak ekosistem," kata Perwakilan Gampiri Interaksi Nedya Sinintha Maulaning.
Sebagai bagian dari komitmen keberlanjutan, dilakukan penanaman kembali pohon mangga, ketapang, dan jati di kawasan Ranjuri, serta program adopsi pohon yang pada 2023 mencakup sekitar 50 pohon. Kini Batik Valiri telah berkembang menjadi paket ekowisata berbasis pengalaman. Melalui jaringan Gampiri Interaksi dan Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL), produk ini kerap menjadi suvenir resmi dalam kunjungan lintas provinsi maupun mitra internasional. Hingga kini, tercatat kunjungan dari perwakilan Brasil, Amerika Serikat, Jepang, dan sejumlah negara lainnya yang datang untuk belajar sekaligus berbelanja langsung.
Kabupaten Sigi sendiri merupakan kawasan dengan sekitar 70 persen wilayahnya berupa hutan. Bagi LTKL, Batik Valiri menjadi contoh konkret pemulihan alam dapat menjadi fondasi pemulihan ekonomi tanpa harus memilih antara pertumbuhan atau kelestarian lingkungan. (NAD)