Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Maluku Jadi Pengekspor Hasil Kelautan dan Perikanan Baru ke Thailand, Nilainya Tembus Rp1 Miliar
Bagikan:
Penulis: Adriyan Adirizky Rahmat · Reporter: Adriyan Adirizky R
Ringkasan Berita
Maluku menjadi daerah baru di Indonesia yang menjadi pengekspor hasil kelautan dan perikanan ke Thailand. Provinsi seluas 581,37 kilometer persegi ini menyusul Sulawesi Tenggara (Sultra), Jawa Timur (Jatim), dan lain-lain.
Ekspor perdana hasil kelautan dan perikanan berupa ikan tuna Ioin beku dari Maluku ke Thailand yang mencapai 11 ton dengan nilai Rp1 miliar. (Foto: KKP RI)
JAKARTA, AFU.ID — Maluku menjadi daerah baru di Indonesia yang menjadi pengekspor hasil kelautan dan perikanan ke Thailand. Provinsi seluas 581,37 kilometer persegi ini menyusul Sulawesi Tenggara (Sultra), Jawa Timur (Jatim), dan lain-lain.
Melansir website Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia (KKP RI), Sabtu (11/7/2026), nilai transaksinya berhasil menembus Rp1 miliar. Ekspor perdana sebanyak 11 ton ikan tuna Ioin beku telah berangkat dari Pelabuhan Yos Sudarso Ambon, Kamis (2/7) lalu.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Perikanan KKP RI, Ishartini pun memberi keterangan pers. “Ini merupakan langkah konkret kami bersama pemda mendukung pertumbuhan ekonomi melalui perluasan negara tujuan ekspor,” ungkapnya.
Ishartini menyampaikan, ekspor frozen tuna Ioin ke Thailand telah mempunyai sertifikasi mutu yang telah mendapat pengakuan dari Codex Alimentarius. Sebagai informasi, Codex Alimentarius adalah organisasi dunia yang mengatur dan menetapkan standar mutu serta keamanan pangan.
Sertifikasi mutu terbitan KKP RI tersebut menjadi jaminan produk perikanan yang diekspor berkualitas baik dan aman untuk dikonsumsi. “Mutu dan keamanan hasil perikanan adalah salah satu kunci utama keberterimaan produk di negara tujuan ekspor,” tutur Ishartini.
Sementara itu, Ahmad Jais Ely selaku Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Maluku menyampaikan harapan dari ekspor perdana tersebut. Ia menginginkan, momentum itu dapat meningkatkan penjualan hasil perikanan dan kelautan ke luar negeri serta berdampak positif terhadap kesejahteraan wilayahnya.
Ahmad Jais Ely pun mengapresiasi dukungan sertifikasi dari KKP RI terhadap produk perikanan PT Jayawi Ambon Internasional. Pasalnya, lisensi itu telah berhasil mengantarkan hasil kerja nelayan Maluku menembus pasar di Negeri Gajah Putih.
“Saat keberangkatan juga telah diserahkan SMKHP (Sertifikat Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan, red). Itu merupakan dokumen wajib untuk bisa masuk ke pasar Thailand,” ujarnya.
Sertifikasi Jadi Kunci Ekspor Hasil Kelautan dan Perikanan
Menteri KP RI, Sakti Wahyu Trenggono menegaskan quality assurance (QA) merupakan salah satu kunci keberterimaan produk ekspor nasional. Bahkan, menjadi aspek penting dalam melakukan diversifikasi baik produk maupun tujuan ekspor.
“Melalui QA dari hulu ke hilir oleh KKP RI, maka produk perikanan Indonesia akan menjadi champion di pasar global,” paparnya.
Sebagai informasi, QA adalah serangkaian proses sistematis yang berfokus terhadap pencegahan cacat dan memastikan produk atau layanan memenuhi standar kualitas. Berbeda dengan pengecekan akhir, QA bertindak proaktif dengan membangun sistem, prosedur, dan pedoman kerja sejak awal proses produksi atau pengembangan.
Di sisi lain, hadirnya Maluku sebagai wilayah baru pengekspor hasil kelautan dan perikanan nasional semakin memperkuat posisi Indonesia di ASEAN. Sepanjang 2025 saja, total ekspor nasional melonjak signifikan menjadi 22,7% dengan nilai yang mencapai USD811 juta. (ADR)