JAKARTA, AFU.ID — Pemerintah Kabupaten Bantul mulai mengembangkan teknologi pirolisis untuk mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif. Program ini digadang-gadang dapat membantu mengurangi timbunan sampah plastik, tetapi implementasinya masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari regulasi hingga kesiapan pengelola di lapangan.
Teknologi pirolisis bekerja dengan memanaskan sampah plastik dalam kondisi minim oksigen hingga menghasilkan bahan bakar cair yang dikenal sebagai Petasol. Melalui proses ini, sampah plastik yang selama ini menjadi beban lingkungan dapat diubah menjadi produk yang memiliki nilai guna.
Sebagai tahap awal, satu unit mesin pirolisis telah diserahkan kepada Kelompok Swadaya Mandiri (KSM) Pilah Berkah di Kapanewon Imogiri, Bantul. Mesin tersebut akan menjadi proyek percontohan sebelum kemungkinan diperluas ke kelompok lain.
Bupati Bantul Abdul Halim Muslih mengatakan pengembangan teknologi ini masih berada pada tahap awal sehingga perlu dievaluasi sebelum direplikasi secara lebih luas.
“Ini kan baru demplot di KSM Pilah Berkah di Imogiri ini, nanti insyaallah akan kita kembangkan di KSM-KSM yang lain,” kata Halim.
Namun, menurut Halim, tidak semua kelompok akan langsung mendapatkan fasilitas serupa. Pemerintah daerah akan menilai kesiapan dan komitmen pengelola karena investasi yang dibutuhkan tidak kecil.
“Mesinnya itu kan seharga kurang lebih Rp150 juta, jadi nanti pastilah ini akan kita kembangkan mana KSM yang siap dan yang komitmen,” ujarnya.
Mesin Ada, Regulasi Belum Selesai
Meski mesin pirolisis sudah mulai digunakan sebagai proyek percontohan, penggunaan hasil olahannya masih memerlukan kepastian hukum. Pemkab Bantul masih harus menyusun regulasi yang mengatur keabsahan penggunaan Petasol.
Kebutuhan regulasi ini muncul setelah adanya masukan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) agar penggunaan bahan bakar hasil pirolisis memiliki dasar hukum yang jelas.
Tanpa aturan yang memadai, pemanfaatan Petasol, termasuk kemungkinan penggunaannya pada kendaraan operasional pemerintah daerah, berpotensi menghadapi kendala administratif maupun teknis.
Karena itu, keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada kemampuan mesin mengolah sampah plastik, tetapi juga pada kesiapan pemerintah menyiapkan standar penggunaan, pengawasan, dan aspek keselamatan lingkungan.
Pengelolaan Sampah Tetap Harus Dimulai dari Rumah
Di luar teknologi yang dikembangkan pemerintah, persoalan sampah tetap membutuhkan keterlibatan masyarakat. Pemilahan sampah dari sumbernya dinilai menjadi langkah paling mendasar agar sistem pengelolaan berjalan efektif.
Sampah organik dan anorganik perlu dipisahkan sejak dari rumah. Sampah plastik yang telah dipilah akan lebih mudah dikumpulkan dan diolah, baik melalui daur ulang maupun teknologi pirolisis.
Pengelola KSM Pilah Berkah Imogiri Arif Solikhin mengatakan keberhasilan pengelolaan sampah sangat bergantung pada perubahan perilaku masyarakat.
“Harapannya ini bisa menjadi percontohan yang baik,” kata Arif.
Menurut dia, masyarakat tetap membutuhkan pendampingan agar kebiasaan memilah dan mengelola sampah dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Arif menjelaskan kelompoknya siap menerima sampah anorganik untuk dikelola lebih lanjut. Sementara itu, sampah organik didorong untuk ditangani langsung di tingkat rumah tangga melalui biopori atau metode pengomposan.
“Dengan catatan sampah anorganik, karena sampah organiknya dikelola di setiap rumah tangga melalui program pengelolaan sampah melalui biopori,” ujarnya.
Teknologi Bukan Solusi Tunggal
Pengembangan mesin pirolisis menunjukkan adanya upaya mencari alternatif penanganan sampah plastik yang selama ini sulit ditangani. Namun, keberadaan teknologi saja tidak otomatis menyelesaikan persoalan sampah.
Pemerintah masih harus memastikan mesin dapat beroperasi secara berkelanjutan, pengelola memiliki kapasitas yang memadai, serta hasil olahan bahan bakar memenuhi standar yang ditetapkan. Selain itu, aspek lingkungan dan keselamatan penggunaan juga perlu diawasi secara ketat.
Di sisi lain, masyarakat tetap memegang peran penting melalui pengurangan penggunaan plastik sekali pakai dan kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah.
Tanpa kombinasi antara teknologi, regulasi yang jelas, pengawasan yang kuat, dan partisipasi warga, mesin pirolisis berisiko hanya menjadi proyek percontohan yang menarik di atas kertas, tetapi belum memberikan dampak signifikan terhadap persoalan sampah secara keseluruhan. (RHU)