JAKARTA, AFU.ID – Piala Dunia 2026 kembali menjadi pesta bagi penggemar sepak bola Indonesia. Namun, ketika 48 negara bertanding di panggung terbesar sepak bola dunia, Timnas Indonesia masih belum menjadi salah satu peserta.
Minat publik terhadap sepak bola sebenarnya sangat besar. Survei Ipsos pada 2022 mencatat 69 persen responden Indonesia mengaku mengikuti sepak bola, tertinggi di antara 34 negara yang disurvei. Lebih dari tiga perempat responden Indonesia saat itu juga menyatakan berminat menonton Piala Dunia.
Piala Dunia 2026 bahkan membuka peluang lebih luas bagi negara-negara Asia. Format turnamen diperluas dari 32 menjadi 48 peserta, sementara Asia memperoleh delapan tiket langsung dan satu jalur menuju Turnamen Playoff FIFA. Dalam siklus kualifikasi ini, Uzbekistan dan Yordania berhasil menembus Piala Dunia untuk pertama kalinya.
Indonesia sempat berada lebih dekat dibanding banyak edisi sebelumnya. Tim Garuda lolos hingga putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026, bersama Arab Saudi, Irak, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Oman, untuk memperebutkan dua tiket langsung tersisa dari Asia. Namun peluang itu terhenti setelah Indonesia kalah 2-3 dari Arab Saudi dan kemudian takluk 0-1 dari Irak.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa tingginya minat publik tidak otomatis berujung pada tiket Piala Dunia. Penggemar memang dapat membuat sepak bola menjadi tontonan besar, menghidupkan siaran pertandingan, penjualan jersey, hingga kegiatan nonton bareng. Namun, kelolosan ditentukan jauh sebelum laga kualifikasi dimainkan: mulai dari kemampuan menemukan pemain muda, kualitas kompetisi, pelatih, fasilitas, hingga kesempatan pemain berkembang di klub profesional.
Indonesia sebenarnya sudah memiliki jalur kompetisi usia muda melalui Elite Pro Academy atau EPA Super League untuk kelompok U-16, U-18, dan U-20. Kompetisi musim 2025/2026 telah selesai digelar, dengan Persik Kediri menjadi juara U-16, Malut United juara U-18, dan Persija Jakarta juara U-20.
Masalah berikutnya bukan sekadar menemukan pemain pada usia muda, melainkan memastikan mereka terus mendapatkan kesempatan bermain ketika memasuki level senior. Regulasi Super League musim 2025/2026 mewajibkan klub menurunkan setidaknya satu pemain Indonesia U-23 dalam susunan awal selama minimal 45 menit. Pada saat yang sama, klub dapat memainkan hingga tujuh pemain asing secara bersamaan.
Aturan tersebut menunjukkan bahwa ruang bagi pemain muda lokal memang tersedia, tetapi tetap harus diperebutkan di tengah kebutuhan klub mengejar hasil kompetisi dan penggunaan pemain asing. Seorang pemain yang menonjol di kompetisi U-16, U-18, atau U-20 belum tentu mendapatkan menit bermain yang cukup di tim utama, apalagi berkembang menjadi pilihan utama Timnas senior.
Kondisi ini membuat Piala Dunia menjadi lebih dari sekadar ajang tontonan bagi Indonesia. Turnamen ini memperlihatkan perbedaan antara negara yang memiliki basis penggemar besar dan negara yang mampu menjaga kesinambungan jalur pemain dari kompetisi usia muda hingga tim nasional.
Bagi Indonesia, jalan menuju Piala Dunia tidak berhenti pada ramainya stadion atau tingginya jumlah penonton di layar. Tantangan berikutnya adalah memastikan kompetisi pemain muda, kesempatan bermain di klub, dan pembinaan menuju level senior benar-benar menghasilkan pemain yang siap membawa Timnas melewati kualifikasi berikutnya. (RHU)