Kenaikan Harga Beras Naik Uji Efektivitas Distribusi Stok Nasional
Data swasembada menunjukkan produksi beras Januari hingga Agustus 2026 diproyeksikan mencapai 25,28 juta ton. Produksi itu diperkirakan meningkat menjadi 34,77 juta ton sepanjang 2026 dengan konsumsi nasional sebesar 31,10 juta ton. Dengan demikian, Indonesia diproyeksikan mempunyai surplus beras bersih sekitar 3,67 juta ton pada tahun ini.
Akan tetapi, kenaikan di sejumlah daerah memperlihatkan bahwa surplus produksi belum otomatis menciptakan harga yang seragam. Stok nasional membutuhkan pendistribusian yang tepat agar daerah dengan tekanan harga memperoleh pasokan dalam waktu cepat. Jika tidak, maka keberhasilan produksi berpotensi tak sepenuhnya terasa pada tingkat konsumen.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mencatat jumlah kabupaten/kota yang mengalami kenaikan harga beras terus bertambah. Sebelumnya, jumlah wilayah dengan kenaikan harga tercatat sebanyak 106 kabupaten/kota. “Sekarang sudah menjadi 120 kabupaten/kota,” ujarnya, Rabu (19/8/2026).
Baca Juga
Perluasan jumlah wilayah tersebut menjadi sinyal, persoalan harga tak hanya berkaitan dengan ketersediaan beras secara nasional. Faktor distribusi, perbedaan pasokan lokal, dan kecepatan intervensi dapat menentukan harga yang masyarakat bayar. Oleh karenanya, capaian produksi perlu berbarengan dengan mekanisme pengendalian harga yang mampu merespons kondisi setiap daerah.
Pemerintah RI mencatat stok beras mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah, sementara produksi domestik juga berada pada level tinggi. Akan tetapi, kenaikan harga di puluhan hingga ratusan kabupaten/kota menunjukkan masih terdapat celah antara stok nasional dan pasar lokal. Kenaikan harga beras akhirnya menjadi ujian penting apakah swasembada pangan juga mampu menghasilkan stabilitas harga bagi konsumen.
Pemda bersama TPID, Bulog, BPS, dan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) perlu memperkuat pemantauan dari tingkat produksi hingga pasar. Keberadaan cadangan beras yang besar seharusnya memberikan ruang intervensi sebelum kenaikan harga meluas. Jika kenaikan terus menyebar, keberhasilan swasembada berisiko lebih terlihat pada neraca produksi daripada manfaat langsung yang diterima masyarakat. (ADR)





























