JAKARTA, AFU.ID — Proses skrining kesehatan peserta Program Latihan Dasar Militer (Latsarmil) bagi calon manajer Koperasi Desa (KDMP) dan Koperasi Nelayan Merah Putih (KNMP) menuai sorotan. Komnas Perempuan menilai seleksi tersebut tidak responsif gender setelah 32 peserta perempuan dalam kondisi hamil sempat lolos pemeriksaan kesehatan sebelum akhirnya dipulangkan.
Komisioner Komnas Perempuan, Yuni Asriyanti, mengatakan temuan tersebut menunjukkan mekanisme pemeriksaan kesehatan belum mampu mengakomodasi kebutuhan spesifik perempuan. Menurutnya, persoalan itu tidak bisa dianggap sebagai kesalahan administratif semata karena berkaitan langsung dengan perlindungan keselamatan peserta. "Meskipun kemudian diputuskan untuk dipulangkan, hal ini menunjukkan proses skrining kesehatan yang tidak responsif gender," kata Yuni, Kamis (2/7/2026).
Yuni menegaskan, pemerintah memiliki kewajiban berkelanjutan untuk memastikan setiap program negara dirancang dengan mengutamakan perlindungan jiwa dan keselamatan peserta, termasuk memperhatikan kebutuhan khusus perempuan. "Fakta bahwa tiga dari lima peserta yang wafat adalah perempuan menunjukkan perlunya memastikan bahwa setiap program negara, termasuk pembekalan bagi peserta sipil, dirancang dengan mengutamakan keselamatan, kebutuhan spesifik, dan perlindungan yang setara bagi perempuan," ujarnya.
Komisioner Komnas Perempuan lainnya, Dahlia Madanih, juga meminta pemerintah tidak terburu-buru menyimpulkan kematian tiga peserta perempuan sebagai akibat faktor biologis sebelum ada investigasi independen. Ia mendesak evaluasi menyeluruh terhadap metode pelatihan yang mengadopsi pendekatan militer bagi warga sipil. Menurut Dahlia, pembinaan calon manajer koperasi semestinya difokuskan pada kepemimpinan, tata kelola, literasi keuangan, dan manajemen organisasi, dengan keselamatan peserta sebagai prioritas utama.
Sorotan Komnas Perempuan menguat setelah lima calon pengelola KDMP dan KKNMP meninggal dunia saat mengikuti Latsarmil. Berdasarkan data Kementerian Pertahanan per 27 Juni 2026, para peserta meninggal akibat tuberkulosis, henti jantung (cardiac arrest), dan heat stroke. Tiga dari lima korban diketahui merupakan peserta perempuan. Yuni menegaskan negara tetap bertanggung jawab atas keselamatan peserta selama mengikuti program, terlepas dari hasil tes kesehatan awal maupun status keikutsertaan yang bersifat sukarela. (RAI)