JAKARTA, AFU.ID — Peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang digagas untuk melatih calon manajer Koperasi Desa (KDMP) dan Koperasi Nelayan Merah Putih (KNMP) kini hanya diizinkan menggunakan telepon seluler selama satu jam setiap pekan. Kebijakan tersebut diterapkan setelah evaluasi pelaksanaan pelatihan dasar militer (latsarmil) menyusul meninggalnya sejumlah peserta.
Komandan Satuan Pendidikan SPPI Pusdikkes TNI AD, Letkol Ckm Said Jauhari, mengatakan pembatasan penggunaan ponsel bertujuan menjaga konsentrasi peserta selama mengikuti pelatihan bela negara yang berlangsung selama 30 hari. Menurutnya, peserta yang mayoritas berasal dari Generasi Z dinilai lebih mudah terdistraksi apabila bebas menggunakan gawai. "Sekarang kan generasinya Gen Z. Kalau pegang handphone konsentrasi belajarnya berkurang, jadi main handphone saja," kata Said di Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (30/6/2026).
Sebelumnya, panitia sempat berencana melarang penggunaan telepon seluler sepenuhnya selama pelatihan. Namun, kebijakan tersebut diubah setelah dilakukan evaluasi pascainsiden meninggalnya beberapa peserta. Perubahan itu juga merupakan arahan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin untuk meredakan kekhawatiran keluarga peserta. "Setiap minggu itu kita berikan ponsel satu jam untuk komunikasi dengan keluarga. Apalagi kemarin ada berita peserta meninggal, tentu keluarga cemas," terang Said.
Said menambahkan, waktu penggunaan ponsel tidak ditetapkan pada jam tertentu, melainkan menyesuaikan agenda pelatihan. Di luar jadwal tersebut, keluarga tetap dapat memperoleh informasi mengenai kondisi peserta melalui panitia apabila terdapat keperluan mendesak. Selain itu, pembatasan penggunaan ponsel juga hanya berlaku selama fase Latihan Pembekalan Bela Negara yang berlangsung selama 30 hari. Setelah memasuki tahap pelatihan manajerial, peserta kembali diperbolehkan menggunakan perangkat elektronik.
Sebagai informasi, gelombang pertama latsarmil berlangsung pada 17 Juni hingga 31 Juli 2026 dan diikuti 35.476 peserta. Sebanyak 30 ribu peserta dipersiapkan menjadi calon pengelola Koperasi Desa Merah Putih, sedangkan 5.476 lainnya merupakan calon pengelola Kampung Nelayan Merah Putih. Namun, sepanjang sekitar 10 hari pelaksanaan pelatihan, lima peserta dilaporkan meninggal dunia dengan penyebab yang berbeda-beda.
Kelimanya adalah Yonanda Muhammad Taufiq meninggal karena henti jantung, Anisa Muyassaroh karena heat stroke, Novia Rahmadhani Sihotang akibat tuberkulosis (TBC) aktif, dan Nola Dya Sari serta Muhammad Rifki Renaldi Gunawan yang meninggal setelah mengalami gangguan kesehatan saat mengikuti pelatihan. Rifki diketahui memiliki riwayat hipertensi dan obesitas. (RAI)