Penulis: Raihan Immaduddin
JAKARTA, AFU.ID — Meninggalnya lima peserta selama mengikuti latihan dasar militer (latsarmil) Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) tidak membuat pemerintah menghentikan pelatihan calon manajer Koperasi Desa Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih. Wakil Menteri Sekretaris Negara, Juri Ardiantoro, mengatakan pelatihan tetap dilanjutkan karena pemerintah membutuhkan para calon manajer agar segera bertugas menjalankan program prioritas Presiden Prabowo Subianto. Namun, berbagai masukan dan hasil evaluasi akan menjadi dasar perbaikan pelaksanaan latsarmil ke depan.
"Latsamil tetap jalan terus. Tetapi masukan dari berbagai pihak tentu diperhatikan," kata Juri di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (29/6/2026). Menurut Juri, pemerintah telah menyiapkan langkah mitigasi agar kejadian serupa tidak kembali terulang. Evaluasi dilakukan terhadap seluruh proses pelatihan, mulai dari aspek kesehatan hingga pelaksanaan di lapangan.
"Intinya adalah memitigasi supaya tidak terjadi masalah seperti yang sudah terjadi meninggalnya lima orang itu tadi. Jadi Insyaallah ke depan sudah diantisipasi supaya tidak terjadi korban," ujarnya. Ia menjelaskan, pembekalan bagi calon manajer tidak hanya berfokus pada kemampuan mengelola koperasi, tetapi juga membangun karakter, disiplin, serta komitmen kebangsaan. Karena itu, pemerintah menilai pelatihan tetap perlu dilaksanakan dengan sejumlah penyempurnaan.
Gelombang pertama latsarmil berlangsung pada 17 Juni hingga 31 Juli 2026 dan diikuti 35.476 peserta. Sebanyak 30 ribu peserta dipersiapkan menjadi calon pengelola Koperasi Desa Merah Putih, sedangkan 5.476 lainnya merupakan calon pengelola Kampung Nelayan Merah Putih. Namun, sepanjang sekitar 10 hari pelaksanaan pelatihan, lima peserta dilaporkan meninggal dunia dengan penyebab yang berbeda-beda.
Kelimanya adalah Yonanda Muhammad Taufiq meninggal karena henti jantung, Anisa Muyassaroh karena heat stroke, Novia Rahmadhani Sihotang akibat tuberkulosis (TBC) aktif, dan Nola Dya Sari serta Muhammad Rifki Renaldi Gunawan yang meninggal setelah mengalami gangguan kesehatan saat mengikuti pelatihan. Rifki diketahui memiliki riwayat hipertensi dan obesitas. (RAI)