AFU.id

Peta Aliansi Maritim Baru di Timur Tengah Bentukan Saudi, Keamanan Laut Merah Makin Terjamin?

Bagikan:

Penulis: Erik Erfinanto

Ringkasan Berita

Arab Saudi telah membentuk aliansi pertahanan maritim multinasional yang terdiri dari 14 negara, termasuk Turki, Kuwait, dan Mesir, untuk menjaga keamanan jalur pelayaran di Laut Merah, Selat Bab al-Mandab, dan Teluk Aden, menyusul ancaman dari kelompok Houthi di Yaman. Pembentukan koalisi ini bertujuan melindungi kebebasan navigasi dan perdagangan internasional di tengah meningkatnya ketegangan regional, terutama setelah kelompok Houthi mengumumkan blokade maritim terhadap Saudi. Meskipun harga minyak dunia turun setelah pengumuman aliansi, tantangan terhadap keamanan jalur pelayaran masih ada, dan efektivitas koalisi akan bergantung pada komitmen anggotanya dalam menjaga stabilitas kawasan.

Peta Aliansi Maritim Baru di Timur Tengah Bentukan Saudi, Keamanan Laut Merah Makin Terjamin?
Arab Saudi membentuk aliansi maritim baru untuk menjaga perairan di Laut Merah dan sekitarnya. (Foto Afuid)

Namun, Uni Emirat Arab dan Oman belum bergabung dalam koalisi, meski memiliki kepentingan keamanan yang sama di tengah meningkatnya ketegangan kawasan. Amerika Serikat juga belum mengonfirmasi keikutsertaannya, meski Washington diperkirakan akan mendukung atau bergabung dengan aliansi tersebut. Pembentukan koalisi ini memiliki arti strategis karena Laut Merah merupakan salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia. Kawasan tersebut menjadi penghubung antara Asia, Timur Tengah, Afrika, dan Eropa serta dilalui sekitar 30 persen lalu lintas perdagangan global.

Posisi paling vital berada di Selat Bab al-Mandab, jalur sempit yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia. Selat tersebut hanya memiliki lebar sekitar 29 kilometer pada titik tersempitnya dan menjadi salah satu jalur utama pengiriman minyak dunia. Pada 2024, sekitar 4,1 miliar barel minyak mentah dan produk minyak olahan melintasi Bab al-Mandab. Jumlah itu setara dengan sekitar 5 persen dari total pasokan minyak dunia.

Bagi Arab Saudi, keamanan Laut Merah menjadi semakin penting setelah gangguan di Selat Hormuz memaksa kerajaan mengalihkan sebagian ekspor minyaknya melalui pelabuhan Yanbu. Jalur tersebut kemudian menjadi rentan akibat meningkatnya aktivitas Houthi di kawasan Laut Merah. Dalam kondisi normal, sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia dikirim melalui Selat Hormuz. Gangguan di Hormuz dan ancaman terhadap jalur Laut Merah membuat risiko terhadap pasokan energi global semakin besar.

Harga Minyak Turun

Pengumuman pembentukan aliansi maritim tersebut langsung mendapat respons positif dari pasar minyak. Harga minyak dunia turun pada perdagangan Jumat setelah kekhawatiran terhadap gangguan lebih luas di jalur pelayaran Timur Tengah mulai mereda. Harga minyak mentah Brent untuk kontrak Oktober tercatat berada di level US$85,26 per barel atau turun 1,9 persen dari penutupan sebelumnya di angka US$86,88 per barel.

Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 2,1 persen menjadi US$81,86 per barel dari posisi sebelumnya US$83,59 per barel. Penurunan harga terjadi karena pembentukan koalisi dinilai dapat mengurangi premi risiko geopolitik yang sebelumnya mendorong kenaikan harga minyak. Pernyataan Houthi bahwa Selat Bab al-Mandab tetap terbuka untuk pelayaran internasional juga turut meredakan kekhawatiran pasar.

Meski demikian, keamanan jalur pelayaran di Laut Merah belum sepenuhnya pulih. Ketegangan masih berlangsung di tengah konflik yang lebih luas antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Kehadiran aliansi maritim bentukan Saudi setidaknya memberi sinyal bahwa negara-negara kawasan mulai membangun mekanisme keamanan bersama untuk mencegah gangguan terhadap perdagangan dan pasokan energi dunia. Namun, efektivitas koalisi tersebut masih akan bergantung pada kemampuan anggotanya menjaga jalur pelayaran serta mencegah konflik di Laut Merah berkembang menjadi gangguan energi yang lebih luas. (EER)

Berita Terkait

Pilihan Redaksi