Penulis: Raihan Immaduddin
JAKARTA, AFU.ID — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan membatalkan rencana serangan udara ke Iran pada Kamis malam (11/6/2026) setelah mendapat tekanan diplomatik dari sejumlah negara di kawasan Teluk dan Asia Selatan. Keputusan tersebut muncul di tengah klaim kesepakatan damai AS-Iran telah berada di tahap akhir.
Menurut laporan media politik Amerika, Politico, pembatalan itu terjadi setelah komunikasi intensif dari para pejabat senior Qatar, Uni Emirat Arab, dan Pakistan. Trump sebelumnya sempat menyatakan akan melancarkan serangan “dengan sangat keras”, namun kemudian mengumumkan operasi militer tersebut tidak jadi dilakukan.
Sejumlah pemimpin kawasan dilaporkan bergerak cepat melakukan komunikasi langsung dengan Gedung Putih untuk meredam eskalasi. Mereka yang terlibat dalam upaya tersebut antara lain Emir Qatar Tamim bin Hamad Al Thani, Presiden UEA Mohammed bin Zayed Al Nahyan, dan Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Asim Munir.
Di sisi lain, proses negosiasi antara AS-Iran disebut sudah memasuki tahap final dengan sejumlah poin utama kesepakatan telah disetujui. Salah satu isu yang masih menjadi pembahasan adalah pembukaan kembali Selat Hormuz serta pencabutan blokade tertentu oleh AS.
Kesepakatan yang dibahas juga mencakup rencana akses Iran terhadap dana lebih dari 16 miliar dolar AS atau sekitar Rp286 triliun yang disimpan di Qatar dan beberapa lokasi lain. Trump bahkan menyebut kesepakatan damai bisa ditandatangani dalam waktu dekat di Eropa.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengonfirmasi draf nota kesepahaman dengan AS telah mencapai kesepakatan prinsip. Namun ia menegaskan proses masih dapat berubah akibat dinamika sikap AS. Sementara itu, Trump juga menyebut Israel turut mengetahui perkembangan kesepakatan tersebut, dan seluruh pihak pada dasarnya telah menyetujui kerangka perjanjian.
Meski demikian, Iran menilai proses tersebut belum sepenuhnya stabil. Teheran menyebut sikap AS kerap berubah dan dapat mengganggu jalannya negosiasi yang sedang berlangsung. Proses diplomasi ini masih terus berjalan di tengah ketegangan yang sebelumnya sempat mengarah pada potensi konflik militer. (ANT/RAI)