JAKARTA, AFU.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim telah membatalkan rencana serangan besar terhadap Iran. Keputusan itu disebut diambil setelah negosiasi dengan Teheran bergerak menuju kesepakatan damai. Trump menyampaikan klaim tersebut melalui unggahan di akun Truth Social miliknya.
Ia menyebut serangan yang semula dijadwalkan berlangsung malam ini dibatalkan karena pembicaraan telah dibawa ke level tertinggi pemerintahan Iran. “Berdasarkan fakta bahwa diskusi dengan Republik Islam Iran telah dibawa ke tingkat tertinggi kepemimpinan Iran dan disetujui, saya, sebagai Presiden Amerika Serikat, telah membatalkan serangan dan pemboman yang dijadwalkan terhadap Iran malam ini,” tulis Trump.
Trump juga mengeklaim sejumlah poin akhir telah disetujui oleh pihak-pihak yang terlibat. Ia menyebut Amerika Serikat, Israel, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Turki, Pakistan, Bahrain, Kuwait, Yordania, Mesir, dan negara lain ikut dalam proses tersebut.
Meski begitu, Trump menegaskan blokade laut terhadap Iran tetap diberlakukan sampai proses kesepakatan benar-benar selesai. “Blokade Angkatan Laut akan tetap berlaku sepenuhnya hingga Transaksi ini diselesaikan,” tambahnya.
Iran Bantah Kesepakatan Sudah Final
Klaim Trump tidak langsung diamini Iran. Teheran justru menilai laporan soal kesepakatan damai masih belum pasti dan belum mencapai tahap final. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei menyebut laporan mengenai kesepakatan tersebut masih bersifat dugaan.
“Laporan tentang kesepakatan itu bersifat spekulatif,” kata Baghaei, dikutip BBC, Jumat (12/6/2026). Ia menegaskan proses negosiasi masih berjalan dan belum menghasilkan keputusan akhir. “Belum ada yang difinalisasi,” ujarnya.
Perbedaan pernyataan ini menunjukkan jurang sikap antara Washington dan Teheran belum sepenuhnya tertutup. Di satu sisi, Trump menampilkan negosiasi sebagai langkah besar menuju perdamaian. Di sisi lain, Iran masih melihat adanya tuntutan berlebihan dan perubahan sikap dari Amerika Serikat yang membuat pembicaraan belum mencapai titik temu.
Ketegangan kedua negara juga masih dibayangi eskalasi militer di lapangan. Dalam beberapa hari terakhir, Amerika Serikat dan Iran kembali terlibat aksi saling serang di kawasan Teluk.
Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM dilaporkan melancarkan serangan pertahanan diri terhadap sejumlah titik di Iran. Berdasarkan laporan media pemerintah Iran, serangan pada 10 Juni menyasar wilayah Jask, Sirik, dan Qeshm di bagian selatan Iran.
Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC menuduh Washington terus memperluas konflik. Iran mengklaim serangan itu merusak menara telekomunikasi di Sirik dan menghancurkan dua tangki penyimpanan air di Distrik Bamani. Sebagai balasan, IRGC menyatakan telah mengerahkan drone untuk menyerang posisi Armada Kelima Amerika Serikat yang bermarkas di Bahrain pada Senin (11/6/2026) dini hari.
Nota Kesepahaman Belum Sentuh Sanksi dan Nuklir
Di tengah klaim damai dari Trump, kantor berita pemerintah Iran, IRNA, melaporkan bahwa pembahasan pencabutan sanksi baru akan dilakukan setelah penandatanganan nota kesepahaman. Proses itu disebut akan masuk dalam masa 60 hari untuk pelaksanaan awal dan negosiasi lanjutan.
Artinya, nota kesepahaman yang sedang dibahas belum menyelesaikan seluruh sengketa antara Amerika Serikat dan Iran. Dokumen itu hanya menjadi kerangka awal untuk meredakan ketegangan dan membuka jalan bagi perundingan lebih rinci. IRNA juga menyebut Iran tidak memberikan komitmen baru terkait program nuklir dalam rancangan nota kesepahaman tersebut.
“Iran tidak menawarkan komitmen apa pun dalam nota kesepahaman mengenai masalah nuklir, dan pihak lain tidak berkomitmen untuk mencabut sanksi,” tulis IRNA, dikutip Al Jazeera, Jumat (12/6/2026). Namun, bila Teheran akhirnya menandatangani dokumen itu, sebagian dana Iran yang dibekukan disebut dapat segera dicairkan. Sisanya akan dilepaskan secara bertahap.
“Jika Teheran memutuskan untuk menandatangani nota kesepahaman, sebagian dana yang dibekukan akan segera dilepaskan, dan sisanya secara bertahap,” tulis IRNA. (FAD)