JAKARTA, AFU.ID — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan serangan terhadap Iran akan terus dilakukan setiap malam dan ditingkatkan apabila Teheran tetap menolak kembali ke meja perundingan. Ancaman itu disampaikan ketika Washington kembali memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Trump mengatakan pasukan Amerika Serikat akan terus menggempur sasaran di Iran hingga dirinya memutuskan operasi tersebut dihentikan. Ia menyebut komunikasi antara pejabat kedua negara masih berlangsung, tetapi belum menghasilkan kesepakatan baru. “Serangan akan terus berlanjut sampai saya mengatakan sudah cukup,” kata Trump dalam wawancara dengan Fox News, Selasa (14/7/26).
Menurut Trump, serangan dengan intensitas tinggi akan kembali dilancarkan pada malam berikutnya. Ia menempatkan pembangkit listrik, jembatan, dan fasilitas energi sebagai sasaran tahap selanjutnya apabila Iran tidak memenuhi tuntutan Washington. “Kami akan menyerang mereka dengan sangat keras malam ini. Besok malam juga, dan malam berikutnya,” ujarnya.
Trump mengatakan serangan terhadap pembangkit listrik dan jembatan dapat dimulai pekan depan. Namun, ancaman terhadap infrastruktur sipil tersebut memunculkan persoalan serius karena hukum humaniter internasional melarang serangan terhadap fasilitas yang sangat dibutuhkan masyarakat sipil. Pernyataan itu disampaikan setelah Komando Pusat Amerika Serikat mengumumkan serangan baru terhadap sasaran militer Iran. Operasi diklaim bertujuan melemahkan kemampuan Teheran menyerang kapal komersial di Selat Hormuz.
Amerika Serikat juga kembali menerapkan blokade terhadap kapal yang menuju atau meninggalkan pelabuhan serta wilayah pesisir Iran. Blokade mulai berlaku pada Selasa pukul 20.00 GMT setelah sempat dicabut dalam kesepakatan sementara pada Juni 2026. Lebih dari 20 kapal perang Angkatan Laut Amerika Serikat dan ratusan pesawat militer telah ditempatkan di kawasan tersebut. Trump menyatakan Selat Hormuz tetap terbuka bagi pelayaran internasional, tetapi tidak bagi kapal Iran.
Pemerintah Iran menolak kembali berunding di bawah tekanan militer dan ekonomi. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan Washington keliru apabila menganggap blokade dan serangan dapat memaksa Teheran kembali ke meja negosiasi. Iran juga mengeklaim melancarkan serangan balasan terhadap posisi serta fasilitas militer Amerika Serikat di Yordania, Bahrain, dan Kuwait. Sejumlah klaim tersebut masih belum dapat diverifikasi secara independen.
Eskalasi terbaru memperlemah kesepakatan sementara yang sebelumnya dimediasi Pakistan. AFU.ID sebelumnya melaporkan gencatan senjata telah dinyatakan berakhir setelah kedua negara kembali saling menyerang dan pembukaan Selat Hormuz tidak kunjung disepakati. Konflik juga kembali menekan pasar energi. Harga minyak Brent naik sekitar 15 persen dalam tujuh hari menjadi US$85 per barel, level tertinggi sejak pertengahan Juni, di tengah kekhawatiran terganggunya jalur pengiriman minyak dan gas melalui Selat Hormuz. (RHU)