Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Update Perang Iran-AS: Saudi Ikut Serang Irak, Trump Marah ke Netanyahu, Iran Serang Pangkalan di Yordania
Bagikan:
Penulis: Erik Erfinanto
Ringkasan Berita
Dalam 48 jam terakhir, ketegangan di Timur Tengah meningkat dengan serangan rudal balistik Iran ke pangkalan militer AS di Yordania dan operasi udara gabungan AS bersama Arab Saudi terhadap milisi pro-Iran di Irak timur. Meskipun serangan rudal Iran berhasil dicegat dan tidak menimbulkan korban, situasi tetap rapuh, terutama setelah serangan drone ke infrastruktur energi Arab Saudi. Di sisi lain, hubungan antara Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali memburuk, dengan Trump mengkritik rencana Netanyahu terkait program nuklir Iran, sementara menegaskan kesiapan AS untuk melanjutkan operasi militer jika diplomasi gagal.
Donald Trump bersitegang dengan Benyamin Netanyahu terkait strategi perang dengan Iran.
Jakarta, AFU.ID — Dalam 48 jam terakhir, konflik di Timur Tengah jauh dari kata selesai. Iran meluncurkan serangan rudal balistik ke pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di Yordania, sementara AS bersama Arab Saudi menggempur kelompok milisi pro-Iran di Irak timur. Di saat yang sama, Presiden AS Donald Trump bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memperlihatkan sinyal hubungan yang kembali memburuk terkait strategi menghadapi Iran. Rangkaian perkembangan tersebut terjadi ketika upaya diplomasi yang sempat dibuka Washington setelah penghentian sementara serangan langsung ke Iran masih berlangsung. Namun, serangan balasan dari kelompok-kelompok yang bersekutu dengan Teheran menunjukkan bahwa situasi di kawasan masih sangat rapuh.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Selasa (28/7) waktu setempat menembakkan sejumlah rudal balistik ke arah pangkalan militer AS di Yordania. Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyatakan seluruh rudal berhasil dicegat sehingga tidak menimbulkan korban maupun kerusakan. Serangan tersebut menjadi serangan rudal balistik langsung pertama Iran terhadap pasukan AS sejak Washington menghentikan sementara operasi udara ke wilayah Iran untuk memberi ruang bagi perundingan. Serangan itu dipandang sebagai sinyal bahwa Iran tetap mempertahankan tekanan militer terhadap AS meski intensitas serangan langsung kedua negara sempat menurun dalam beberapa hari terakhir.
Beberapa jam setelah serangan rudal Iran, AS dan Arab Saudi melancarkan operasi udara gabungan terhadap sejumlah posisi milisi pro-Iran di Irak timur. Menurut CENTCOM, operasi tersebut menyasar kelompok-kelompok bersenjata yang didukung IRGC setelah lebih dari 30 serangan drone dalam tiga hari terakhir diarahkan ke pasukan AS dan infrastruktur energi Arab Saudi. Pemerintah Arab Saudi menyatakan operasi militer itu merupakan tindakan membela diri setelah fasilitas minyak di Provinsi Timur dan wilayah Riyadh menjadi sasaran serangan drone yang berasal dari wilayah Irak.
Riyadh menegaskan tidak menginginkan eskalasi konflik, tetapi akan merespons setiap serangan terhadap wilayah dan infrastruktur strategisnya. Sementara itu, kelompok Popular Mobilization Forces (PMF) di Irak mengonfirmasi sejumlah markas mereka diserang dan melaporkan adanya korban tewas maupun luka-luka. Operasi tersebut menjadi salah satu aksi militer gabungan AS-Arab Saudi yang paling signifikan sejak perang dengan Iran pecah awal tahun ini.
Ketegangan Baru Trump dengan Netanyahu
Trump menerima kunjungan Netanyahu di Gedung Putih pada Selasa (28/7). Pertemuan itu merupakan pertemuan pertama kedua pemimpin sejak perang dimulai pada akhir Februari lalu. Sebelum pertemuan berlangsung, Trump secara terbuka mengkritik rencana Netanyahu yang ingin membahas fasilitas bawah tanah Pickaxe Mountain, yang diyakini terkait program nuklir Iran di dekat Natanz. Trump mengatakan dirinya tidak memerlukan penjelasan dari Netanyahu mengenai fasilitas tersebut. "Saya tidak perlu Bibi memberi tahu saya soal itu. Bibi mengatakan itu karena dia ingin saya tetap terlibat," kata Trump dalam wawancara dengan Fox News sebelum pertemuan berlangsung dikutip AFU.ID, Rabu (29/7/2026).
Trump juga menegaskan AS mengetahui kondisi fasilitas tersebut dan mengancam akan menghancurkannya apabila Iran gagal mencapai kesepakatan diplomatik mengenai program nuklirnya. Namun, hingga kini belum ada serangan baru terhadap fasilitas nuklir Iran dalam dua hari terakhir. Pemerintahan Trump sebelumnya menghentikan sementara serangan langsung ke wilayah Iran setelah sekitar 13 hari operasi militer berturut-turut, dengan alasan membuka peluang negosiasi melalui mediator regional.
Trump bahkan sempat menyebut terdapat "peluang bagus" untuk mencapai kemajuan diplomatik. Namun, ia juga memperingatkan bahwa AS siap kembali melancarkan operasi militer besar apabila pembicaraan gagal menghasilkan kesepakatan. Meski aktivitas kelompok Houthi di Yaman relatif mereda dalam dua hari terakhir, eskalasi di Irak dan serangan rudal Iran ke Yordania menunjukkan konflik telah bergeser ke front-front proksi yang melibatkan kelompok-kelompok sekutu Teheran di berbagai negara Timur Tengah. (EER)