Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Trump Klaim Ditelpon Iran untuk Membatalkan “Serangan Terbesar Sejak Perang Dunia II”, Percaya?
Bagikan:
Penulis: Erik Erfinanto
Ringkasan Berita
Presiden AS, Donald Trump, mengungkapkan preferensinya untuk mencapai kesepakatan damai dengan Iran guna menghindari korban jiwa, di tengah perbaikan komunikasi diplomatik antara kedua negara. Meskipun Trump menyatakan bahwa opsi militer tetap siap, ia mengklaim bahwa pejabat Iran telah menghubunginya untuk membatalkan rencana "serangan terbesar sejak Perang Dunia II". Sementara itu, perundingan antara Washington dan Teheran menunjukkan kemajuan, tetapi belum mencapai kesepakatan terkait jaminan keamanan dan kebebasan pelayaran di Selat Hormuz, dengan ancaman militer dari AS tetap menjadi latar belakang negosiasi.
Donalt Trump mengeklaim ditelpon Iran untuk membatalkan serangan besar. (Foto Afuid)
JAKARTA, AFU.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan dirinya lebih memilih jalur damai dengan Iran demi mencegah jatuhnya lebih banyak korban jiwa. Pernyataan itu disampaikan di tengah membaiknya komunikasi diplomatik antara Washington dan Teheran. Meski demikian, Trump menegaskan bahwa opsi militer tetap disiapkan apabila upaya diplomasi kembali menemui jalan buntu. "Saya lebih memilih untuk mencapai kesepakatan, karena saya tidak ingin membunuh orang," kata Trump dalam sebuah acara di Las Vegas, seperti dilansir Anadolu Agency, Kamis (6/8/2026).
Sebelumnya, Trump mengungkapkan bahwa AS telah menyiapkan operasi militer berskala besar yang disebutnya sebagai serangan terbesar sejak Perang Dunia II. Dia juga mengeklaim pejabat Iran menghubunginya melalui telepon untuk meminta rencana serangan tersebut dibatalkan. "Mereka menghormati kita... Tidak ada presiden lainnya yang melakukan apa yang seharusnya sudah dilakukan sejak lama, karena Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir," ujar Trump.
Hubungan kedua negara sempat menunjukkan kemajuan setelah Washington dan Teheran menyepakati kerangka awal perundingan untuk merumuskan kesepakatan. Namun, proses negosiasi kemudian tersendat karena kedua pihak belum menemukan titik temu terkait jaminan keamanan dan kebebasan pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia. Di saat seperti itu, situasi kembali memanas pada bulan lalu. Amerika Serikat melancarkan serangan ke sejumlah sasaran di wilayah Iran, yang kemudian dibalas Teheran dengan menyasar fasilitas serta aset militer AS di beberapa negara kawasan Teluk, termasuk Yordania, Bahrain, dan Kuwait.
Trump Klaim Dialog AS-Iran Berlangsung 'Sangat Baik'
Trump menyebut perundingan terbaru antara pemerintahannya dan Iran berlangsung sangat positif. Menurut dia, pembahasan yang digelar sepanjang Selasa (4/8) waktu setempat menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Trump menilai kemajuan itu membuka peluang bagi meredanya konflik yang telah berlangsung sekitar lima bulan. "Mereka melakukan perundingan seharian penuh," ujarnya dalam program @Night di Fox News.
Dia juga menyampaikan keyakinannya bahwa Selat Hormuz akan kembali dibuka dalam waktu dekat. Meski demikian, Trump mengingatkan bahwa apabila Iran tidak menepati komitmen yang dicapai, Washington siap memberikan respons militer yang keras. Ancaman tersebut bukan kali pertama dilontarkan Trump. Dalam beberapa kesempatan sebelumnya, dia berulang kali menegaskan kesiapan AS melakukan serangan besar jika Iran menolak mencapai kesepakatan, meski di saat yang sama tetap menyebut jalur diplomasi terus menunjukkan perkembangan.
Sementara itu, laporan Axios yang mengutip dua sumber regional dan seorang pejabat AS menyebut pembicaraan menuju kesepakatan sementara semakin mengerucut. Kesepakatan itu disebut mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dengan dukungan Oman yang memiliki kendali atas sebagian wilayah perairan strategis tersebut. Meski demikian, media pemerintah Iran melaporkan pembahasan terkait Selat Hormuz bersama Oman belum dapat dilanjutkan. Teheran menegaskan proses itu akan tertunda selama Amerika Serikat masih menyampaikan ancaman terhadap Iran. (EER)