JAKARTA, AFU.ID — Rencana serangan militer ke Iran dibatalkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, Sabtu (1/8/2026). Keputusan ini diambil setelah Iran dan sejumlah negara Timur Tengah lainnya meminta waktu tambahan untuk menyelesaikan kerangka kesepakatan damai. Trump menyebut Israel turut bergabung dalam komitmen penundaan serangan tersebut.
Lewat unggahan di platform Truth Social miliknya, Trump mengklaim semua pihak sudah menyetujui batas-batas kesepakatan yang sedang dirumuskan. Kesepakatan itu mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz secara segera dan penuh, serta pengakhiran ancaman nuklir dari Iran.
Trump mengatakan ia setuju membatalkan serangan tersebut demi kepentingan masa depan dunia dan juga demi kelangsungan hidup Iran yang sukses dan makmur. Meski begitu, ia menegaskan keputusan itu tetap bergantung pada kemampuan semua pihak untuk segera mencapai kesepakatan.
"AS berada dalam kondisi siap dan siaga untuk melancarkan serangan Republik Islam Iran, dengan tingkat kekuatan militer, daya tempur, dan kemampuan yang belum pernah terlihat sejak Perang Dunia II," tulis Trump. Trump kembali menegaskan Israel telah menyetujui komitmen untuk menunda serangan. "Semua pihak, segera bekerja dan tuntaskan ini," tambah Trump.
Sebelumnya, AS dan Israel dilaporkan tengah menyiapkan operasi pengeboman besar-besaran terhadap infrastruktur energi Iran. Dalam rapat kabinet di Camp David, Trump menyatakan AS akan menyerang Iran dengan sangat keras, "sampai pada suatu titik di mana mereka akan berkata, 'kami tak dapat menahannya lagi'." Pernyataan senada disampaikan dua pejabat lain di lingkaran pemerintahan AS.
Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menegaskan AS akan menang dan tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir. Sementara Juru Bicara Pentagon, Sean Parnell menyebut pihaknya sudah siap menembak, meski enggan membocorkan target serangan sebelum ada keputusan presiden. CBS News melaporkan pembangkit listrik dan instalasi penyulingan berpotensi menjadi sasaran utama serangan gabungan AS dan Israel, termasuk opsi memutus aliran listrik ke Teheran. (NAD)