JAKARTA, AFU.ID - Badan Energi Atom Internasional (IAEA) diperkirakan segera mengamankan dan memindahkan material nuklir yang tersimpan di sebuah lokasi rahasia di Suriah. Kesepakatan terkait pengamanan material tersebut disebut tercapai melalui diplomasi Amerika Serikat dengan melibatkan pemerintah Suriah dan Israel.
Menurut laporan media Israel, Yedioth Ahronoth yang mengutip pejabat Israel dan AS, lokasi yang disebut “Site 99” diduga menyimpan material nuklir yang berasal dari program nuklir rahasia era pemerintahan Bashar al-Assad. Material tersebut dikaitkan dengan proyek reaktor Al-Kibar yang dihancurkan Israel dalam serangan udara pada 2007. Material yang berada di lokasi tersebut disebut antara lain berupa yellowcake, yakni konsentrat uranium yang dihasilkan dari pengolahan bijih uranium. Selain itu terdapat residu dan sisa material yang berkaitan dengan fasilitas Al-Kibar.
Meski material tersebut menurut pejabat AS tidak dapat langsung digunakan untuk membuat senjata nuklir, keberadaannya tetap dinilai sensitif karena material radioaktif dapat disalahgunakan. Laporan Yedioth Ahronoth menyebut material tersebut secara teoritis dapat digunakan dalam apa yang dikenal sebagai “dirty bomb”, yakni bahan peledak konvensional yang dirancang untuk menyebarkan material radioaktif dan mencemari suatu wilayah.
Israel sendiri telah memantau lokasi “Site 99” selama sekitar dua tahun. Menurut laporan tersebut, Israel bahkan pernah menyampaikan kepada Donald Trump bahwa material nuklir tidak boleh dibiarkan berada di lokasi itu. Israel juga disebut sempat memperingatkan kemungkinan melakukan serangan kembali apabila material tersebut tidak diamankan atau terdapat indikasi pihak Suriah berusaha mengaksesnya. Namun, pejabat AS mengatakan Israel tidak berada di ambang serangan terhadap lokasi tersebut.
Situasi kemudian berkembang ketika pihak Amerika Serikat berusaha mendapatkan persetujuan pemerintah Suriah untuk proses pemindahan material. Dalam pembicaraan tersebut, pejabat Suriah disebut mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui adanya material nuklir yang disimpan di lokasi tersebut.
Ketegangan kembali muncul beberapa pekan sebelum kesepakatan ketika pemantauan Israel mendeteksi aktivitas di sekitar “Site 99”. Israel dan Amerika Serikat kemudian mencurigai adanya kemungkinan upaya pemerintah Suriah untuk mengakses material tersebut. Pejabat Israel juga disebut khawatir Turki mungkin membantu Suriah mendapatkan akses ke lokasi.
Washington kemudian meminta Israel tidak mengambil tindakan militer dan melibatkan IAEA dalam penyelesaian masalah tersebut. Hasilnya, sekitar tiga pekan sebelum laporan tersebut diterbitkan, IAEA dan pemerintah Suriah disebut telah menandatangani kesepakatan untuk mengeluarkan material nuklir dari lokasi tersebut.
Namun, proses pemindahan belum berlangsung sepenuhnya. Pejabat AS mengatakan pekerjaan di “Site 99” masih berjalan dan material nuklir tersebut belum dipindahkan. Pemerintah Amerika berharap proses pengamanan dapat dimulai dalam waktu dekat dan selesai sebelum akhir tahun.
Perkembangan ini berlangsung ketika hubungan Suriah dengan IAEA memasuki fase baru setelah jatuhnya pemerintahan Assad. Suriah menyatakan IAEA akan segera mengumumkan kemajuan signifikan terkait persoalan material nuklir dan berkomitmen bekerja sama dengan badan pengawas nuklir PBB tersebut. Reuters melaporkan bahwa pemerintah Suriah membantah adanya keterlibatan Israel dalam pembicaraan tersebut dan menyatakan diskusi dengan IAEA masih berlangsung.
Persoalan nuklir Suriah sendiri telah berlangsung selama bertahun-tahun. IAEA sebelumnya menemukan partikel uranium hasil proses kimia di sejumlah lokasi dan terus meminta penjelasan mengenai aktivitas nuklir Suriah yang tidak sepenuhnya dilaporkan. Badan tersebut juga pernah mendokumentasikan keberadaan yellowcake di fasilitas pemurnian asam fosfat di Homs. (EER)