JAKARTA, AFU.ID — Serangan udara Israel menghantam sebuah bangunan tempat tinggal di kawasan Ansar, Lebanon selatan, dan menewaskan sedikitnya tujuh orang serta melukai tiga lainnya. Serangan terjadi di pinggiran Ansar, dekat Desa Az-Zrariyeh, dan membuat bangunan yang menjadi sasaran hancur total.
"Tujuh orang tewas dan tiga lainnya terluka dalam serangan udara yang menyasar sebuah rumah di pinggiran Ansar, dekat Desa Az-Zrariyeh. Rumah tersebut hancur total," ungkap seorang sumber dari layanan darurat Lebanon kepada RIA Novosti, Sabtu (15/8/2026). Tim penyelamat masih melakukan pencarian dan pembersihan puing untuk memastikan tidak ada korban lain yang tertinggal di bawah reruntuhan. Para korban luka telah dibawa ke sejumlah rumah sakit di Kota Nabatieh.
Serangan di Ansar terjadi ketika Lebanon selatan kembali menjadi titik panas dalam hubungan Israel dan Lebanon. Dalam beberapa hari terakhir, militer Israel juga melancarkan serangkaian serangan terhadap sejumlah wilayah di Lebanon selatan. Pada Minggu (9/8), pesawat Israel dilaporkan menyerang permukiman Mansouri, sementara artileri menghantam kawasan perbukitan Ali al-Taher, wilayah antara Zawtar dan Maifadoun, serta lahan di Mansouri. Serangan drone juga dilaporkan memicu kebakaran di kawasan perkebunan dan pegunungan Distrik Beqaa Barat.
Mengapa Lebanon Selatan Menjadi Sasaran Israel?
Lebanon selatan memiliki posisi strategis dalam konflik Israel-Lebanon karena kawasan tersebut selama puluhan tahun menjadi salah satu basis utama aktivitas Hizbullah. Kelompok yang didukung Iran itu memiliki jaringan militer dan infrastruktur di berbagai wilayah Lebanon selatan, termasuk kawasan yang berdekatan dengan perbatasan Israel.
Bagi Israel, keberadaan persenjataan dan infrastruktur Hizbullah di selatan Lebanon dianggap sebagai ancaman langsung terhadap wilayah Israel bagian utara. Hizbullah sebelumnya menggunakan kawasan tersebut sebagai basis untuk melancarkan serangan roket dan proyektil ke Israel. Karena itu, ketika terjadi eskalasi, Israel kerap menjadikan wilayah selatan Lebanon sebagai sasaran operasi militer dengan alasan menghancurkan kemampuan militer Hizbullah.
Namun, tidak berarti setiap desa atau bangunan yang diserang Israel merupakan markas Hizbullah. Dalam kasus Ansar, misalnya, informasi yang tersedia mengenai serangan terbaru tersebut belum menunjukkan secara independen bahwa rumah yang dihantam merupakan fasilitas militer Hizbullah. Klaim mengenai sasaran militer perlu dibedakan dari lokasi serangan terhadap bangunan sipil.
Lebanon selatan juga menjadi wilayah yang sangat sensitif karena berdasarkan kesepakatan gencatan senjata dan pengaturan keamanan pascakonflik, pemerintah Lebanon didorong untuk memastikan hanya negara Lebanon yang memiliki kendali militer di wilayah tersebut. Salah satu persoalan paling sulit dalam pelaksanaannya adalah tuntutan agar Hizbullah melucuti persenjataannya. (EER)