AFU.id

4.416 Perguruan Tinggi Perkuat Konsorsium Solusi Kebangsaan, Ubah Sivitas Akademika Jadi Problem Solver Daerah

Bagikan:

Penulis: Adriyan Adirizky RahmatReporter: Adriyan Adirizky R

Ringkasan Berita

Konsorsium Perguruan Tinggi Solusi Kebangsaan dibentuk untuk mempercepat pembangunan daerah di Indonesia dengan memanfaatkan riset, inovasi, dan kolaborasi lintas sektor dari 4.416 perguruan tinggi. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Fauzan, menekankan pentingnya transformasi perguruan tinggi menjadi problem solver yang dapat memberikan solusi terhadap persoalan lokal, serta mendorong kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat. Dengan melibatkan hampir sepuluh juta mahasiswa dan ratusan ribu dosen, konsorsium ini diharapkan dapat menghasilkan solusi konkret untuk mendukung pembangunan nasional menuju visi Indonesia Emas 2045.

4.416 Perguruan Tinggi Perkuat Konsorsium Solusi Kebangsaan, Ubah Sivitas Akademika Jadi Problem Solver Daerah
Wamendiktisaintek RI, Fauzan menyampaikan Konsorsium Perguruan Tinggi Solusi Kebangsaan dalam acara Pelepasan Tim Ekspedisi Patriot Kementerian Transmigrasi (Kementrans) di Jakarta, Rabu (29/7/2026). (Foto: Kemdiktisaintek RI)

Konsorsium Perguruan Tinggi Solusi Kebangsaan Perluas Kolaborasi Pembangunan

Kemdiktisaintek RI pun telah membentuk sejumlah Konsorsium Perguruan Tinggi Solusi Kebangsaan di berbagai daerah. Konsorsium itu mempertemukan perguruan tinggi dengan pemerintah daerah, dunia usaha dan dunia industri (DUDI), masyarakat, serta media melalui pendekatan pentahelix untuk menyusun solusi berbasis evidence-based policy. Harapannya, kolaborasi itu dapat mempercepat penyelesaian persoalan pembangunan sesuai karakteristik masing-masing daerah.

Kemdiktisaintek RI bahkan telah menerapkan model tersebut di sejumlah wilayah, seperti Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk percepatan penurunan stunting melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik. Ada pula di Sulawesi Tengah (Sulteng) untuk penanganan tuberkulosis (TBC) dan Bondowoso melalui pendampingan pengembangan pertanian organik. Wamen Fauzan memandang, pengalaman itu dapat menjadi model dalam mendukung pembangunan kawasan transmigrasi dengan mengidentifikasi persoalan spesifik sebelum menyusun solusi berbasis riset.

“Perguruan tinggi itu harus menjadi bagian solusi terhadap masalah yang ada di masyarakat. Di suatu kawasan transmigrasi, kampus bisa mengidentifikasi tantangan yang ada di lokasi tersebut. Ketika diperlukan kajian yang lebih spesifik dan treatment yang lebih efektif, maka perguruan tinggi dapat ‘memencet tombol’ konsorsium yang ada di daerah tersebut,” tutur Wamen Fauzan.

Sementara itu, Brian Yuliarto selaku Mendiktisaintek RI terus mendorong kampus menjadi mitra strategis sekaligus asisten pembangunan daerah melalui kebijakan Diktisaintek Berdampak. Kebijakan itu sejalan dengan arah pembangunan nasional dalam Asta Cita yang menempatkan penguatan sumber daya manusia (SDM), sains, teknologi, dan inovasi sebagai fondasi pemerataan pembangunan.

Keberhasilan Konsorsium Perguruan Tinggi Solusi Kebangsaan akan menentukan seberapa besar kapasitas kampus menjawab persoalan riil masyarakat melalui riset dan inovasi. Jika kolaborasi lintas sektor berjalan konsisten, potensi hampir sepuluh juta mahasiswa dan ratusan ribu dosen dapat berubah menjadi kekuatan pembangunan untuk daerah. Yang mana, dapat menghasilkan solusi konkret dan mempercepat terwujudnya visi Indonesia Emas 2045. (ADR)

Berita Terkait

Pilihan Redaksi