AFU.id

Ketergantungan Impor Masih Tinggi, Presiden Prabowo Tuntut Inovasi Perguruan Tinggi

Bagikan:

Penulis: Adriyan Adirizky RahmatReporter: Adriyan Adirizky R

Ringkasan Berita

Inovasi perguruan tinggi kini menjadi pilar vital agar dapat menggerakkan roda pembangunan nasional berbasis sains. Pasalnya, ketergantungan terhadap produk luar negeri alias impor masih tinggi dan harus terputus melalui konsistensi hilirisasi riset terapan.

Ketergantungan Impor Masih Tinggi, Presiden Prabowo Tuntut Inovasi Perguruan Tinggi
Presiden RI, Prabowo Subianto (tengah) membuka Sarasehan Kebangsaan KSTI Tahun 2026 di JICC, Jakarta, Jumat (26/6/2026). (Foto: BPMI Setpres/Laily Rachev)

Sektor Industri Menanti Inovasi Perguruan Tinggi

Presiden RI, Prabowo Subianto menilai sektor industri nasional masih tertinggal akibat minimnya komitmen riset domestik dalam memproduksi komoditas secara mandiri. Pemerintah secara berkala menagih peta jalan taktis guna menghentikan ketergantungan impor pangan yang tinggi.

“Saya berkali-kali datang ke kampus, minta orang-orang terpintar, kenapa kita tidak bisa punya benih gandum? Kenapa kita harus impor? Kenapa kelapa sawit per hektare di Malaysia produknya lebih dari kita? Kenapa Indonesia setelah 81 tahun tidak bisa bikin mobil buatan sendiri?,” tanyanya.

Presiden Prabowo memandang, langkah awal pembuatan kendaraan lokal akan membuktikan potensi besar anak bangsa dalam bersaing di pasar manufaktur global. Pasalnya, kebanggaan terhadap produk domestik harus ditunjukkan oleh pimpinan tertinggi sebagai bentuk dukungan moral yang nyata.

“Terima kasih, kita mulai ke arah punya mobil sendiri, saya ada satu kepuasan yang mendalam di dalam hati. Waktu pulang dari pelantikan, saya bisa naik mobil buatan Indonesia,” ucap Kepala Negara.

Prabowo menyadari, setiap hasil rekayasa teknologi baru membutuhkan waktu dan proses pembenahan bertahap agar mencapai standar internasional. Oleh karenanya, keberanian untuk memulai tahapan produksi menjadi modal penting bagi negara dengan kekayaan alam yang melimpah.

“Tidak apa-apa, minimal mulai dan harus berani karena kita adalah negara keempat terbesar di dunia. Kita adalah negara yang kekayaannya luar biasa,” pungkas Prabowo Subianto.

Hilirisasi riset menuju sektor industri membutuhkan jaminan proteksi pasar yang tegas dari pemerintah pusat. Kegagalan menyerap hasil penelitian universitas hanya akan membuat Indonesia selamanya menjadi pasar konsumsi bagi komoditas asing di tengah pusaran perdagangan bebas. (ADR)

Berita Terkait

Pilihan Redaksi