Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Ketergantungan Impor Masih Tinggi, Presiden Prabowo Tuntut Inovasi Perguruan Tinggi
Bagikan:
Penulis: Adriyan Adirizky Rahmat · Reporter: Adriyan Adirizky R
Ringkasan Berita
Inovasi perguruan tinggi kini menjadi pilar vital agar dapat menggerakkan roda pembangunan nasional berbasis sains. Pasalnya, ketergantungan terhadap produk luar negeri alias impor masih tinggi dan harus terputus melalui konsistensi hilirisasi riset terapan.
Presiden RI, Prabowo Subianto (tengah) membuka Sarasehan Kebangsaan KSTI Tahun 2026 di JICC, Jakarta, Jumat (26/6/2026). (Foto: BPMI Setpres/Laily Rachev)
JAKARTA, AFU.ID — Inovasi perguruan tinggi kini menjadi pilar vital agar dapat menggerakkan roda pembangunan nasional berbasis sains. Pasalnya, ketergantungan terhadap produk luar negeri alias impor masih tinggi dan harus terputus melalui konsistensi hilirisasi riset terapan.
Presiden Republik Indonesia (RI), Prabowo Subianto mengeklaim peran kaum intelektual menduduki posisi kunci dalam kabinet. Kepala Negara berkomitmen menempatkan para pakar dalam sektor-sektor yang menentukan kebijakan ekonomi nasional.
Keterlibatan aktif pemikir terbaik menjadi modal utama dalam menentukan arah perkembangan peradaban. Presiden Prabowo menilai, kemajuan suatu bangsa selalu berakar dari gagasan visioner yang lahir di lingkungan akademis.
“Saudara-saudara yang menjadi guru besar adalah memang orang-orang terpintar yang dimiliki bangsa Indonesia. Setiap inovasi, perubahan, dan kemajuan di setiap bangsa selalu berasal dari pemikir-pemikir yang terbaik,” ungkapnya.
Prabowo Subianto menyampaikan, penyusunan regulasi negara wajib berdasarkan metodologi ilmiah yang logis dan terukur. Sehingga, Ia wajib mencari solusi konkret atas ketimpangan ekonomi masyarakat lewat pendekatan ilmu pengetahuan.
“Kita bernegara serta berbangsa, harus dipahami tujuannya untuk mencapai suatu kehidupan yang layak dan baik untuk rakyat kita. Sebagai individu yang diberi kepercayaan memegang kendali pemerintahan, adalah tugas dan kewajiban saya untuk menghadapi kesulitan-kesulitan serta mencari solusinya,” tuturnya.
Prabowo menjelaskan, penempatan kalangan akademisi dalam pos kementerian demi memastikan setiap kebijakan berlandaskan riset data yang kuat. Ia berharap, kehadiran ilmuwan dapat mereduksi keputusan politik sepihak yang tidak tepat sasaran.
“Saya dari awal sangat menyadari peran dan pentingnya para ilmuwan serta guru besar. Karena itu, hampir di setiap bidang pemerintahan yang menentukan, saya ikutsertakan profesor-profesor,” ujarnya.
Sektor Industri Menanti Inovasi Perguruan Tinggi
Presiden RI, Prabowo Subianto menilai sektor industri nasional masih tertinggal akibat minimnya komitmen riset domestik dalam memproduksi komoditas secara mandiri. Pemerintah secara berkala menagih peta jalan taktis guna menghentikan ketergantungan impor pangan yang tinggi.
“Saya berkali-kali datang ke kampus, minta orang-orang terpintar, kenapa kita tidak bisa punya benih gandum? Kenapa kita harus impor? Kenapa kelapa sawit per hektare di Malaysia produknya lebih dari kita? Kenapa Indonesia setelah 81 tahun tidak bisa bikin mobil buatan sendiri?,” tanyanya.
Presiden Prabowo memandang, langkah awal pembuatan kendaraan lokal akan membuktikan potensi besar anak bangsa dalam bersaing di pasar manufaktur global. Pasalnya, kebanggaan terhadap produk domestik harus ditunjukkan oleh pimpinan tertinggi sebagai bentuk dukungan moral yang nyata.
“Terima kasih, kita mulai ke arah punya mobil sendiri, saya ada satu kepuasan yang mendalam di dalam hati. Waktu pulang dari pelantikan, saya bisa naik mobil buatan Indonesia,” ucap Kepala Negara.
Prabowo menyadari, setiap hasil rekayasa teknologi baru membutuhkan waktu dan proses pembenahan bertahap agar mencapai standar internasional. Oleh karenanya, keberanian untuk memulai tahapan produksi menjadi modal penting bagi negara dengan kekayaan alam yang melimpah.
“Tidak apa-apa, minimal mulai dan harus berani karena kita adalah negara keempat terbesar di dunia. Kita adalah negara yang kekayaannya luar biasa,” pungkas Prabowo Subianto.
Hilirisasi riset menuju sektor industri membutuhkan jaminan proteksi pasar yang tegas dari pemerintah pusat. Kegagalan menyerap hasil penelitian universitas hanya akan membuat Indonesia selamanya menjadi pasar konsumsi bagi komoditas asing di tengah pusaran perdagangan bebas. (ADR)