Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Perkuat Daya Saing SDM, KKP Satukan 11 Perguruan Tinggi Vokasi Jadi Institut Kelautan Indonesia
Bagikan:
Penulis: Adriyan Adirizky Rahmat · Reporter: Adriyan Adirizky R
Ringkasan Berita
Institut Kelautan Indonesia resmi dibentuk sebagai hasil penggabungan 11 perguruan tinggi vokasi untuk meningkatkan daya saing sumber daya manusia di sektor kelautan dan perikanan. Transformasi ini bertujuan untuk menyelaraskan pendidikan dengan kebutuhan industri serta memperkuat riset dan inovasi, di mana masing-masing kampus akan memiliki spesialisasi sesuai dengan bidangnya. Dengan basis 27.819 lulusan dan kerja sama dengan berbagai institusi, diharapkan Institut Kelautan Indonesia dapat menjadi pusat keunggulan dalam pengembangan pendidikan maritim yang relevan dan terarah.
KKP RI meresmikan Institut Kelautan Indonesia yang menyatukan 11 perguruan tinggi vokasi. (Foto: KKP RI)
JAKARTA, AFU.ID — Institut Kelautan Indonesia secara resmi terbentuk untuk menjawab kebutuhan sumber daya manusia (SDM) kelautan dan perikanan yang kian kompleks serta kompetitif. Transformasi itu menyatukan 11 perguruan tinggi vokasi dengan orientasi pendidikan berbasis industri dan spesialisasi kampus. Perubahan juga mengarah untuk memperkuat riset, inovasi, serta keterhubungan pendidikan dengan kebutuhan sektor kelautan dan perikanan nasional.
Melansir website Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia (KKP RI), Minggu (26/7/2026), enam menteri meresmikan satuan pendidikan yang juga bernama Ocean Institute of Indonesia (OII) tersebut. Momen itu berlangsung di Ballroom KKP RI, Jakarta Pusat, dengan melibatkan sejumlah pejabat, Selasa (21/7/2026) lalu. Transformasi itu pun menjadi bagian dari upaya menyatukan arah pengembangan pendidikan vokasi kelautan dan perikanan secara lebih terintegrasi.
Sebagai informasi, 11 perguruan tinggi vokasi yang melebur menjadi Institut Kelautan Indonesia terdiri dari Politeknik Ahli Usaha Perikanan dan Akademi Komunitas Wakatobi. Lalu ada Politeknik Kelautan dan Perikanan (KP) yang tersebar di sembilan wilayah tanah air. Kesembilannya adalah Dumai, Karawang, Pangandaran, Sidoarjo, Jembrana, Kupang, Bone, Bitung, dan Sorong.
Menteri KP RI, Sakti Wahyu Trenggono menyatakan ke-11 perguruan tinggi vokasi tersebut sebelumnya berjalan dengan karakteristik dan pengembangan masing-masing. Oleh karenanya, perubahan sistem merupakan keniscayaan agar pendidikan lebih relevan dengan perkembangan industri. Ia pun berharap, penyatuan dapat menciptakan visi pendidikan yang lebih seragam tanpa menghilangkan spesialisasi setiap kampus.
“Saya ingin ini disatukan dan diubah secara menyeluruh, mulai dari kurikulum pendidikannya, hingga tujuan akhirnya. Ke depan, saya juga akan melihat bagaimana ukuran-ukuran suksesnya,” ungkap Sakti Wahyu Trenggono.
Menteri Sakti lantas menyampaikan, setiap kampus akan mempunyai keunggulan tertentu yang sesuai dengan kebutuhan sektor kelautan dan perikanan. Spesialisasinya mencakup penangkapan ikan, budi daya, pengolahan hasil perikanan, dan bidang lain yang mendukung industri maritim. Harapannya, pola itu dapat mencegah tumpang tindih program pendidikan dan sekaligus memperkuat kompetensi lulusan.
Institut Kelautan Indonesia Satukan 27.819 Lulusan
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BPPSDM KP) KKP RI, I Nyoman Radiarta menjelaskan seluruh satuan pendidikan menerapkan kurikulum berbasis industri. Peserta didiknya juga berasal dari keluarga pelaku usaha kelautan dan perikanan, sehingga mempunyai kedekatan dengan sektor yang dipelajari. Secara keseluruhan, ke-11 satuan pendidikan tersebut telah meluluskan 27.819 orang sejak pertama kali berdiri yang sebagian besar terserap ke dunia usaha dan industri.
Sementara itu, Brian Yuliarto selaku Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Mendiktisaintek) RI menilai Institut Kelautan Indonesia dapat menjadi pusat keunggulan yang melahirkan riset dan perusahaan rintisan baru. Yang mana, pengembangan itu berpotensi memperkuat hubungan antara pendidikan, inovasi, dan kebutuhan industri kelautan. Kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi dan mitra strategis juga disepakati untuk mendukung agenda besar itu.
Di antaranya Insitut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, Universitas Brawijaya, Universitas Diponegoro, Universitas Padjadjaran, Universitas Muhammadiyah Jakarta, Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut, dan Universitas Nusa Cendana. Kemudian Universitas Andalas, Universitas Hasanuddin, Universitas Sam Ratulangi, Universitas Pattimura, Sampoerna Unniversity, Universitas Trunojoyo, Onamu Co.Ltd. Korea Selatan, serta Vogo Group and Globit Co. Ltd. Korea Selatan.
Dengan basis 11 kampus dan puluhan ribu lulusan, Institut Kelautan Indonesia mempunyai modal awal yang cukup besar untuk membangun ekosistem pendidikan maritim lebih terarah. Namun, keberhasilan transformasi itu akan ditentukan oleh konsistensi pembaruan kurikulum, kualitas fasilitas, dan kemampuan mengubah potensi pendidikan menjadi inovasi yang benar-benar digunakan industri. (ADR)