Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Misteri Kematian Penjaga Rumah Eks Jampidsus Febrie Belum Terjawab, Ini Deretan Fakta yang Terungkap
Bagikan:
Penulis: Erik Erfinanto
Ringkasan Berita
Kematian Sutrimo, penjaga rumah eks Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Febrie Adriansyah, menimbulkan sejumlah pertanyaan dan fakta janggal, termasuk kronologi sebelum meninggal, identitas pemesan ambulans, dan masalah pribadi yang dihadapi almarhum. Sutrimo ditemukan tidak sadarkan diri dengan busa di mulut dan hidung sebelum dievakuasi ke rumah sakit, namun sudah dinyatakan meninggal saat tiba. Keluarga mengungkapkan bahwa Sutrimo pernah mengalami ketakutan terkait perselisihan dengan kakak ipar Febrie Adriansyah dan belum menerima barang-barang pribadi milik almarhum setelah pemakaman.
Ilustrasi kematian Sutrimo, mantan penjaga rumah eks Jampisus Febrie Adriansyah. (FOTO AFUID)
Jakarta, AFU.ID - Kematian Sutrimo, penjaga rumah eks Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah, menyisakan sejumlah pertanyaan. Berdasarkan laporan yang beredar dan keterangan keluarga, terdapat sejumlah fakta yang dinilai janggal, mulai dari kronologi sebelum meninggal, misteri pemesan ambulans, hingga pengakuan keluarga mengenai persoalan yang dihadapi almarhum sebelum wafat. Berikut rangkuman fakta yang diterima redaksi AFU.ID di Jakarta, Senin (27/7/2026).
Sutrimo disebut sempat menghubungi kerabat sebelum ditemukan tak sadarkan diri di Rumah Sakit Muhammadiyah Taman Puring, Jakarta Selatan. Berdasarkan kronologi, pada Kamis (23/7) sekitar pukul 06.37 WIB, Sutrimo sempat menelepon seorang kerabat dan mengeluhkan kondisi kesehatannya. Namun, ketika didatangi, ia sudah ditemukan tidak sadarkan diri dengan busa keluar dari mulut dan hidung. Korban kemudian dievakuasi menggunakan ambulans menuju RS Muhammadiyah Taman Puring, Jakarta Selatan. Berdasarkan rekam medis rumah sakit, Sutrimo tiba dalam keadaan sudah meninggal dunia.
Sutrimo dibawa ambulans ke rumah sakit. Tetapi, menurut keterangan sopir ambulans, yang memesan tidak diketahui identitasnya. Pemesanan dilakukan secara daring oleh orang yang tidak menyebutkan identitasnya. Ia hanya diminta menjemput korban di depan Klinik Mordent, tempat Sutrimo ditemukan sudah tergeletak, tidak bergerak, dengan busa keluar dari mulut dan hidung. Hingga kini belum diketahui identitas pihak yang memesan ambulans tersebut.
Sama seperti pemesan ambulans, Sutrimo juga diantar oleh empat orang yang juga tak dikenal. Mereka ini yang mengantarkannya ke RS. Petugas keamanan RS Muhammadiyah Taman Puring menyebut Sutrimo diantar oleh empat orang yang tidak dikenalnya. Dalam administrasi rumah sakit, penanggung jawab pasien tercatat atas nama Febrio Adianto. Sementara itu, pihak rumah sakit mencatat korban memiliki riwayat amputasi pada ibu jari kaki kiri dan saat tiba seluruh tubuhnya telah tertutup kain.
Sudah Dikafani saat Diterima Keluarga
Menurut keluarga, jenazah Sutrimo tiba di rumah duka sekitar pukul 23.00 WIB menggunakan ambulans dari Jakarta. Di dalam ambulans terdapat tiga orang, terdiri atas seorang sopir dan dua pria yang disebut keluarga memiliki perawakan seperti anggota TNI. Jenazah kemudian diserahkan kepada keluarga dengan disaksikan kepala desa. Keluarga mengatakan jenazah sudah dalam kondisi dimandikan dan dikafani sehingga mereka hanya sempat melihat bagian wajah sebelum dimakamkan. Keluarga juga mengaku hingga proses pemakaman selesai, barang-barang pribadi milik Sutrimo belum diterima. Barang yang disebut belum diserahkan antara lain telepon seluler, dompet, kartu ATM, serta pakaian milik almarhum.
Adik ipar almarhum mengungkapkan, sebelum meninggal Sutrimo kerap mencurahkan isi hatinya kepada keluarga. Menurut keterangan tersebut, Sutrimo mengaku pernah dijanjikan sebuah mobil, namun janji itu tidak pernah dipenuhi. Keluarga juga menyebut Sutrimo pernah berselisih dengan kakak ipar Febrie Adriansyah terkait proyek batu bara di Jambi. Perselisihan itu disebut membuat almarhum hidup dalam ketakutan. "Almarhum selalu ketakutan, sampai dengan almarhum meninggal tidak pernah akur dengan kakak ipar Bapak Febrie Adriansyah," demikian keterangan keluarga dalam laporan tersebut.
Mantan pegawai Klinik Mordent, Agus, mengatakan Sutrimo pernah bekerja di klinik tersebut selama sekitar dua tahun dan tinggal di lokasi itu. Menurut Agus, Klinik Mordent merupakan milik Febrie Adriansyah, meski telah berhenti beroperasi sekitar lima tahun terakhir. Hingga berita ini ditulis, belum ada penjelasan resmi dari Febrie Adriansyah maupun pihak-pihak yang disebut dalam keterangan keluarga terkait berbagai informasi tersebut. Sejumlah informasi di atas juga belum dapat diverifikasi secara independen dan masih sebatas keterangan keluarga maupun saksi yang tercantum dalam laporan. (EER)