JAKARTA, AFU.ID — Kehamilan pada usia 40 tahun ke atas semakin menjadi tren di Amerika Serikat seiring meningkatnya jumlah perempuan yang memilih memiliki anak di usia matang. Fenomena ini didukung kemajuan teknologi reproduksi, meski para ahli mengingatkan risiko kesehatan ibu dan janin tetap meningkat seiring bertambahnya usia.
Data Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menunjukkan angka kelahiran perempuan berusia di atas 40 tahun kini telah melampaui angka kehamilan remaja. Pergeseran tersebut sekaligus mengubah pandangan lama mengenai batas usia ideal bagi perempuan untuk menjadi ibu.
Aktris Hollywood Sienna Miller, yang melahirkan anak keduanya pada usia 41 tahun, menilai perempuan seharusnya tidak dipandang berbeda ketika memilih hamil di usia matang. "Kita tidak menilai pria yang memiliki anak di usia 80-an, jadi mengapa ada narasi apa pun terkait keputusan perempuan hamil di usia matang?" kata Sienna Miller.
Meski demikian, dokter spesialis reproduksi menegaskan kehamilan pada usia 40-an tetap memiliki tantangan medis yang lebih besar. Risiko keguguran, kelainan kromosom, hingga komplikasi kehamilan diketahui meningkat dibandingkan perempuan yang hamil pada usia lebih muda.
Dokter spesialis endokrin reproduksi sekaligus Chief Clinical Officer Extend Fertility, Joshua Klein, mengatakan peluang kehamilan tetap terbuka meski tingkat keberhasilannya menurun. "Jika peluang pembuahan bulanan adalah lima persen, seseorang tentu bisa dan pasti akan berhasil mencapai kehamilan tersebut," kata Joshua Klein.
Kemajuan teknologi reproduksi menjadi salah satu faktor yang mendorong meningkatnya kehamilan di usia matang. Prosedur pembekuan sel telur maupun embrio memungkinkan kualitas sel reproduksi tetap terjaga sehingga peluang kehamilan dapat dipertahankan meski usia terus bertambah.
Direktur Columbia University Fertility Center, Zev Williams, menjelaskan sel telur atau embrio yang dibekukan dengan prosedur yang benar tidak mengalami proses penuaan selama masa penyimpanan. Menurutnya, teknologi tersebut memberi kesempatan lebih besar bagi perempuan yang ingin menunda kehamilan.
Selain usia, kondisi kesehatan ibu juga menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan kehamilan. Dokter spesialis fertilitas CCRM Fertility New York, Sheeva Talebian, menilai perempuan berusia 43 tahun yang sehat dapat memiliki peluang kehamilan lebih baik dibandingkan perempuan yang lebih muda tetapi memiliki penyakit penyerta.
Para ahli menilai tren tersebut turut mengubah cara pandang masyarakat terhadap kehamilan. Kini, kesiapan fisik, mental, dan finansial semakin dipandang sebagai faktor yang sama pentingnya dengan usia dalam merencanakan kehamilan.
Joshua Klein menegaskan harapan untuk hamil di usia matang tetap harus diimbangi pemahaman mengenai risiko medis yang mungkin muncul. "Harapan itu penting, namun informasi yang akurat mengenai risiko dan prosedur medis juga sama pentingnya bagi setiap calon ibu," kata Joshua Klein. (ANT/RAI)