JAKARTA, AFU.ID — Kesepian berkepanjangan tidak hanya berdampak pada kesehatan mental, tetapi juga dapat memengaruhi fungsi otak hingga meningkatkan risiko gangguan neurologis, termasuk penurunan daya ingat dan demensia. Para ahli mengingatkan isolasi sosial kronis dapat memicu perubahan pada struktur maupun cara kerja otak apabila berlangsung dalam waktu lama.
Ketua Grup Neurologi Rumah Sakit Yatharth India, Dr. Kunal Bahrani, mengatakan hubungan sosial memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan otak. Menurutnya, interaksi sosial yang rutin membantu merangsang fungsi kognitif, mengatur emosi, serta menjaga respons tubuh terhadap stres tetap seimbang.
Bahrani menjelaskan kesepian yang berlangsung terus-menerus dapat membuat otak berada dalam kondisi siaga berkepanjangan. "Ketika seseorang mengalami kesepian yang berkepanjangan, otak dapat tetap dalam keadaan kewaspadaan tinggi, yang menyebabkan peningkatan kadar hormon stres seperti kortisol," kata Bahrani, Kamis (25/6/2026).
Peningkatan hormon stres tersebut, lanjut dia, dapat memengaruhi kualitas tidur, konsentrasi, kemampuan mengingat, hingga suasana hati. Sejumlah penelitian juga menemukan kesepian kronis berkaitan dengan perubahan pada area otak yang mengatur emosi, pembelajaran, dan pengambilan keputusan.
Kurangnya interaksi sosial turut mengurangi stimulasi mental yang dibutuhkan otak agar tetap adaptif seiring bertambahnya usia. Bahrani menyebut hubungan sosial bagi otak memiliki peran yang sama pentingnya seperti olahraga bagi kesehatan tubuh.
"Percakapan, pengalaman bersama, dan hubungan terus-menerus mengaktifkan berbagai jaringan kognitif. Ketika interaksi tersebut berkurang, otak menerima lebih sedikit stimulasi," ujarnya.
Sementara itu, ahli neurologi Apollo Speciality Hospitals Chennai, Dr. Sreenivas UM, mengatakan berbagai penelitian terbaru menunjukkan kesepian menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan meningkatnya risiko demensia. Menurutnya, isolasi sosial dapat memicu perubahan struktural pada bagian otak yang berperan dalam memori, penalaran, berpikir, dan pengambilan keputusan.
Ia menambahkan kondisi tersebut juga dapat memperburuk gejala pada penderita stroke, epilepsi, penyakit Parkinson, multiple sclerosis, maupun demensia. Selain memperlambat proses pemulihan, isolasi sosial juga dinilai meningkatkan risiko kekambuhan berbagai gangguan neurologis.
Sreenivas menjelaskan hasil pencitraan otak menunjukkan area yang aktif saat seseorang merasa kesepian memiliki kemiripan dengan area yang merespons rasa sakit secara fisik. Temuan itu menjadi salah satu penjelasan ilmiah mengapa kesepian kerap digambarkan sebagai "sakit hati".
Meski demikian, para ahli menegaskan kesepian bukan kondisi yang permanen karena otak memiliki kemampuan untuk beradaptasi dan membentuk koneksi baru. Membangun hubungan sosial yang sehat, menekuni hobi, mempelajari keterampilan baru, rutin berolahraga, dan aktif dalam kegiatan komunitas dinilai dapat membantu menjaga kesehatan otak dalam jangka panjang. (ANT/RAI)