JAKARTA, AFU.ID - Indonesia disebut memiliki potensi uranium hingga 89.000 ton dan thorium 143.000 ton. Jika dibandingkan dengan Iran, salah satu negara yang memiliki program nuklir maju, potensi uranium Indonesia yang disampaikan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terlihat jauh lebih besar. Peneliti BRIN menyampaikan potensi tersebut saat memaparkan hasil riset teknologi nuklir kepada Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan RI, Kamis (6/8/2026). Dalam pemaparan tersebut, peneliti juga menyebut telah berhasil memurnikan uranium hingga 60 persen.
Sementara itu, menurut World Nuclear Association , data sumber daya uranium Iran yang tercantum dalam Uranium 2022 Red Book IAEA dan OECD, Iran memiliki sekitar 9.900 ton uranium sebagai sumber daya teridentifikasi in situ. Dari jumlah tersebut, sekitar 4.300 ton masuk kategori reasonably assured recoverable resources dan 4.100 ton merupakan inferred recoverable resources. Dengan demikian, angka potensi 89.000 ton yang disampaikan BRIN sekitar sembilan kali lebih besar dibanding angka 9.900 ton sumber daya uranium Iran yang tercatat dalam data tersebut.
Namun, perbandingan itu tidak sepenuhnya setara karena klasifikasi dan basis penghitungan sumber daya uranium masing-masing negara perlu diperhatikan. Sumber daya uranium juga tidak otomatis berarti seluruh jumlah tersebut dapat ditambang atau digunakan sebagai bahan bakar nuklir. Kelayakan ekonomis dan teknologi ekstraksi menjadi faktor penting dalam menentukan berapa banyak uranium yang benar-benar dapat dimanfaatkan. Meski memiliki potensi uranium yang disebut jauh lebih besar dari Iran, Indonesia hingga kini belum memiliki pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) komersial. Sebaliknya, Iran telah lama mengembangkan industri nuklir, termasuk fasilitas pengayaan uranium.
Masih bersumber pada data yang sama, Iran memiliki kemampuan pengayaan uranium dengan stok uranium yang telah diperkaya pada sejumlah tingkat pengayaan, termasuk hingga 60 persen U-235 per hingga Juni 2025. Perbedaan ini, berarti besarnya sumber daya alam bukan satu-satunya faktor yang menentukan kemampuan sebuah negara dalam mengembangkan teknologi nuklir. Penguasaan teknologi, fasilitas, regulasi, pembiayaan, hingga kemampuan membangun rantai pasok nuklir menjadi faktor lainnya.
Di Indonesia, pemerintah saat ini justru menyatakan pengembangan riset nuklir diarahkan untuk kepentingan energi dan kesehatan. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan BRIN dan lembaga pemerintah lainnya tengah mengembangkan riset nuklir, termasuk untuk melihat kemungkinan pembangunan PLTN di Indonesia. "Kalau berkenaan dengan masalah nuklir, lebih fokus ke penelitian untuk kepentingan energi dan kesehatan. Misalnya, mungkinkah pembangkit listrik tenaga nuklir dibangun di Indonesia atau peralatan alutsista berbahan nuklir, serta untuk kepentingan kesehatan, terutama medis," kata Prasetyo di Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Jumat (7/8/2026).
Dalam pameran di hadapan Prabowo, peneliti BRIN menyampaikan kesiapan teknologi untuk mendukung pembangunan PLTN. Selain uranium 89.000 ton, Indonesia disebut memiliki potensi thorium hingga 143.000 ton. Prasetyo mengatakan pertemuan Presiden dengan para ilmuwan BRIN menjadi momentum untuk memperkuat konsolidasi sumber daya riset nasional. "Tujuannya hanya satu, yaitu mengonsolidasikan dan menajamkan riset kita dengan tujuan untuk menghasilkan riset-riset yang langsung berdampak dan bisa menyelesaikan problem-problem yang dihadapi bangsa kita," ujar Prasetyo. (EER)